Masjid Darussalam Belawa Wajo Punya Tradisi Malam ke-15 Ramadhan

[caption id="attachment_2163" align="alignleft" width="718"]Masjid Darussalam Belawa Wajo Punya Tradisi Malam ke-15 Ramadhan Masjid Darussalam Belawa Wajo Punya Tradisi Malam ke-15 Ramadhan[/caption]WAJO, berita-sulsel.com - Wajo dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak menghasilkan ulama-ulama besar. Di daerah yang dikenal dengan sebutan Kota Santri ini juga berdiri salah satu pesantren tertua di Sulawesi Selatan, yakni Pesantren As'adiyah Sengkang. Selain itu, juga terdapat salah satu masjid yang menjadi ikon wisata religi di Kabupaten Wajo, yakni Masjid Darussalam.Masjid yang terletak di Kecamatan Belawa yang dibangun sejak 1947 atas gagasan Anre Gurutta (Maha Guru) Kyai Haji Martan bersama masyarakat itu sejak dulu sudah menjadi salah satu destinasi wisata religi karena keindahan arsitekturnya.Masjid berlantai dua tersebut memiliki lima kubah dan diapit dua menara di sisi depan dengan arsitektur yang merupakan penggabungan antara Arab dan Bugis."Umumnya, memasuki malam ke-15 Ramadhan Masjid Darussalam akan ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya dari kecamatan lain yang ada di Kabupaten Wajo, beberapa jamaah juga berasal dari luar kabupaten, seperti Sidrap, Soppeng, Bone dan Enrekang," ujar Haji Abdul Jalil, penasehat Masjid Besar Darussalam Belawa yang juga sesepuh masyarakat Kecamatan Belawa kepada penulis, beberapa waktu lalu.Selain itu, kata dia, beberapa perantau asal Belawa yang bermukim di luar Sulawesi Selatan juga kerap kali memanfaatkan momen Ramadhan untuk berkunjung ke masjid tersebut."Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi masyarakat. Sejak malam ke-15 Ramadhan hingga malam terakhir Ramadhan, masjid tak pernah sepi oleh jamaah dari luar daerah," imbuh Jalil.Sisi lain yang membuat Masjid Darussalam menjadi salah satu destinasi wisata religi selama Ramadhan, terkait kultur tradisional religius yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar untuk menunaikan shalat tarawih.Salah satunya, keberadaan makam yang diyakini sebagai ibunda Syech Tosagenae, yang juga terdapat di Kecamatan Belawa. Konon, sosok Syech Tosagenae merupakan putra asli Belawa yang memutuskan melancong ke Arab Saudi untuk menuntut ilmu sejak beranjak remaja dan meninggal di tanah suci sebelum sempat pulang ke Belawa."Banyak jamaah yang juga menyempatkan berziarah ke makam Ibunda Syech Tosagenae sebelum berbuka puasa. Makanya, ada juga yang menyebut Belawa dengan penyebutan Bumi Tosagenae," tutur Abdul Jalil.Menurutnya, meski sekarang sudah banyak masjid yang dibangun bertingkat dua dan indah, namun tetap tak mengurangi antusias masyarakat untuk mengunjungi masjid ini.Selain itu, kebiasaan buka puasa bersama dengan sajian hidangan makanan dan takjil yang digelar hingga di halaman masjid yang bertepatan dengan hari ke-15 Ramadhan, juga sudah menjadi tradisi unik sejak masjid tersebut berdiri."Pengurus masjid biasanya memotong beberapa ekor sapi untuk menu buka puasa bersama. Sementara warga sekitar menyumbang berupa beras," kata Nasruddin, salah seorang warga Belawa.Namun, tak jarang pula sumbangan sapi tersebut biasanya ditanggung oleh masyarakat dari luar daerah yang sengaja datang ke Masjid Darussalam sebagai bentuk pelepasan nazar maupun untuk menunaikan shalat tarawih di masjid tersebut. (ris)

Masjid Darussalam Belawa Wajo Punya Tradisi Malam ke-15 Ramadhan
Masjid Darussalam Belawa Wajo Punya Tradisi Malam ke-15 Ramadhan

WAJO, berita-sulsel.com – Wajo dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak menghasilkan ulama-ulama besar. Di daerah yang dikenal dengan sebutan Kota Santri ini juga berdiri salah satu pesantren tertua di Sulawesi Selatan, yakni Pesantren As’adiyah Sengkang.

Selain itu, juga terdapat salah satu masjid yang menjadi ikon wisata religi di Kabupaten Wajo, yakni Masjid Darussalam.


Masjid yang terletak di Kecamatan Belawa yang dibangun sejak 1947 atas gagasan Anre Gurutta (Maha Guru) Kyai Haji Martan bersama masyarakat itu sejak dulu sudah menjadi salah satu destinasi wisata religi karena keindahan arsitekturnya.

Masjid berlantai dua tersebut memiliki lima kubah dan diapit dua menara di sisi depan dengan arsitektur yang merupakan penggabungan antara Arab dan Bugis.

“Umumnya, memasuki malam ke-15 Ramadhan Masjid Darussalam akan ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya dari kecamatan lain yang ada di Kabupaten Wajo, beberapa jamaah juga berasal dari luar kabupaten, seperti Sidrap, Soppeng, Bone dan Enrekang,” ujar Haji Abdul Jalil, penasehat Masjid Besar Darussalam Belawa yang juga sesepuh masyarakat Kecamatan Belawa kepada penulis, beberapa waktu lalu.

Selain itu, kata dia, beberapa perantau asal Belawa yang bermukim di luar Sulawesi Selatan juga kerap kali memanfaatkan momen Ramadhan untuk berkunjung ke masjid tersebut.

“Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi masyarakat. Sejak malam ke-15 Ramadhan hingga malam terakhir Ramadhan, masjid tak pernah sepi oleh jamaah dari luar daerah,” imbuh Jalil.

Sisi lain yang membuat Masjid Darussalam menjadi salah satu destinasi wisata religi selama Ramadhan, terkait kultur tradisional religius yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar untuk menunaikan shalat tarawih.

Salah satunya, keberadaan makam yang diyakini sebagai ibunda Syech Tosagenae, yang juga terdapat di Kecamatan Belawa. Konon, sosok Syech Tosagenae merupakan putra asli Belawa yang memutuskan melancong ke Arab Saudi untuk menuntut ilmu sejak beranjak remaja dan meninggal di tanah suci sebelum sempat pulang ke Belawa.

“Banyak jamaah yang juga menyempatkan berziarah ke makam Ibunda Syech Tosagenae sebelum berbuka puasa. Makanya, ada juga yang menyebut Belawa dengan penyebutan Bumi Tosagenae,” tutur Abdul Jalil.

Menurutnya, meski sekarang sudah banyak masjid yang dibangun bertingkat dua dan indah, namun tetap tak mengurangi antusias masyarakat untuk mengunjungi masjid ini.

Selain itu, kebiasaan buka puasa bersama dengan sajian hidangan makanan dan takjil yang digelar hingga di halaman masjid yang bertepatan dengan hari ke-15 Ramadhan, juga sudah menjadi tradisi unik sejak masjid tersebut berdiri.

“Pengurus masjid biasanya memotong beberapa ekor sapi untuk menu buka puasa bersama. Sementara warga sekitar menyumbang berupa beras,” kata Nasruddin, salah seorang warga Belawa.

Namun, tak jarang pula sumbangan sapi tersebut biasanya ditanggung oleh masyarakat dari luar daerah yang sengaja datang ke Masjid Darussalam sebagai bentuk pelepasan nazar maupun untuk menunaikan shalat tarawih di masjid tersebut. (ris)

Comment