oleh

Makassar Krisis Air Bersih

-Daerah, Headline, News-1.368 views
Makassar Krisis Air Bersih
Makassar Krisis Air Bersih

BERITA-SULSEL.COM – Musim kemarau berkepanjangan tahun 2015, hal ini memberi dampak luar biasa bagi warga Kota Metropolitan Makasar. Hawa panas menyengat serta persediaan air bersih juga sudah mulai mengalami krisis.

Air tanah berupa sumur manual dan sumur bor juga sudah tidak normal. Demikian halnya debit air dari PDAM Makassar juga sudah semakin mengecil malah di beberapa lokasi sudut kota warga kadang hanya mendapatkan angin dari pipa PDAM.



Indarwati salah seorang warga Kota Makassar tinggal di Jl. Baronang ditemui Minggu 18 Oktober 2015 mengatakan, musim kemarau tahun ini berbeda tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya hujan sudah mulai turun pada bulan Okteber, tetapi tahun ini belum dan tidak ada tanda dalam waktu dekat akan segera turun hujan.

“Saya khawatir akan terjadi kekeringan dan krisis air bersih jika dalam waktu dua bulan kedepan tidak turun hujan. Karena saat ini saja kebutuhan air bersih yang tersedia di PDAM sudah tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari”, kata Inderawati.

Masyarakat kota Makassar lainnya juga sudah mulai merasakan dampak dari musim kemarau ini, kebutuhan akan air bersih sudah mulai tidak mencukupi yang dipasok oleh PDAM. Air bersih itu digunakan untuk memasak, mencuci, mandi dan sebagainya. Krisis air bersih itu mulai meresahkan warga masyarakat.

Warga berharap,  PDAM dan pemerintah Makassar agar memperhatikan ketersediaan air bersih di musim kemarau, terutama masyarakat kecil yang sering di pandang sebelah mata.

Antri Air Bersih

Dampak kemarau berkepanjangan juga mulai dirasakan di kalangan mahasiswa kos-kosan di Pampang Makasar sekitar kampus UMI Makassar. Mahasiswa harus rela antri mandi dan menunggu air besih dari pipa PDAM yang menetes.

“Kemarau panjang ini sangat mempersulit kami sebagai anak kost-kosan yang setiap hari mengantri untuk mendapatkan air.” ungkap Andas salah seorang anak kos di temui di Pampang Ahad, 18 Oktober 2015.

Akibat kemarau ,tegas Andas, cukup banyak mahasiswa tersita waktunnya hanya untuk menunggu satu ember air bersih. Selain itu pengelola usaha pemondokan dan rumah kos-kosan kurang memperhatikan kebutuhan air bersih penghuninya.

Kemarau panjang, ungkap Andas, menyisahkan balada kehidupan yang hendaknya kita ubah dengan gerakan hemat air. Dengan begitu kita lebih siap untuk menghadapi kemarau panjang ini yang telah menjadi langganan tahunan, tegasnya. (rijal-nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed