Banner-Pemkot-Mks
Opini

Belajar dari Sosok Tangguh Panglima Sula

Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole

Ahlan Mukhtari Soamole

Daerah Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara adalah salah satu Daerah yang dikenal sebagai Daerah berpenghasilan sumber daya alam dan sumber daya hayati terbesar di Maluku Utara. Keberadaannya berada di antara daratan dan lautan—daratan sebagai penghasil pertanian seperti kopra, kakao, coklat, kelapa dll, sebagaimana di laut terdapat potensi ikan terbesar khususnya laut selat Capalulu, penghasilan udang, dan gurita—hal ini yang membuat Daerah Kepulauan Sula menjadi corong pusat pengembangan wilayah khususnya Maluku Utara melalui pengelolaan sumber daya alam yang melimpah tersebut, secara baik.

Akan tetapi, di sisi lain ada suatu hal yang lebih menarik dan dapat menambah wawasan dunia para pembaca yang budiman, Kepulauan Sula juga pun dikenal sebagai daerah Negeri Para Panglima—Kata panglima sangat lekat dengan Kapita, Kapita merupakan seorang yang memiliki kemampuan dan keberanian bertempur dalam medan perang melawan para pemberontak atau kemampuan seseorang dalam melindungi masyarakat dari ancaman dan kekejaman—negeri yang dipimpin oleh Panglima atau kapita perang.

Wilayah ini penuh dengan nilai-nilai tradisi kebudayaan yang sangat kental dan diistilahkan sebagai Negeri Barakat (berkah), selama ini kita ketahui semasa penjajahan Portugis dan Belanda dan koloni-koloni lainnya, daerah-daerah semenanjuk di daratan Nusantara hampir dihinggapi oleh mereka para koloni dan melakukan penjajahan secara dekadensi sosial, politik dan ekonomi, penerapan sistem kerja paksa dan dominasi politik kolonial atas pribumi melalui sistem yang diterapkan semisal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Seperti Jawa dan lain-lain, bahkan eksponen-eksponen daerah itu ditawan, ditangkap dan diasingkan.

Berbeda halnya di Negeri Sula justru yang ditawan dan di asingkan yakni penjajah atau pemberontak itu sendiri, Sebab, hal ini memiliki suatu relevansi antara culture karakteristik Portugis yang memiliki kemiripan dengan masyarakat yang berada di Kepulauan Sula. Serupa pula dengan masyarakat lainnya yang terdapat di daerah Moluku pada gilirannya melakukan asimilasi culture melaui perkawinan dengan masyarakat pribumi Sula, dibuktikan dengan beberapa nama fam atau marga yang terdapat di daerah Sula tersebut.

Pribumi Sula

Orang Sula dikenal sebagai orang yang sangat berpendirian, berprinsip dan memiliki falsafah hidup yang sangat mendalam. Hal ini disebabkan oleh tradisi dan kebudayaan yang telah ditanamkan sejak para pendahulu atau petuah-petuah Sula terdahulu. Jika ada sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan seperti penindasan, despotisme atau tindak keserakahan kekuasaan maka mereka akan melawan sampai titik darah penghabisan, mungkin kata perang akan diucapkan dan berlangsung hingga berakhir perang tersebut.

Pribumi Sula kemudian dikenal sebagai Matapia Sua (orang Sula) sangatlah tegar dan hidup berkelompok sebagaimana hidup sekandung sanak Saudara, terdapat beberapa suku Matapia Sua Fatce, Fahahu, Fagudu, Mangon dan Fogi. Hal itu yang membuat sikap Matapia Sua sebagai pembela dan ksatria dalam pertempuran. Dari pribumi Sula atau Matapia Sua inilah para panglima Sula itu lahir.

Banyak kisah yang telah menjadi sejarah lisan oleh masyarakat Matapia Sua seperti Kekuasaan dan kemampuan ekspansi panglima Sula dari semenanjung Negeri Moluku sampai Sulawesi bahagiaan Selatan. Konon, sebelum kekuasaan Kerajaan Ternate oleh Sultan sampai ke daratan Sulawesi kekuasaan Panglima Sula sudah berada duluan jauh daripada itu.

Antara Panglima Sula dan Kesultanan Ternate

Di kisahkan pada masa kejayaan kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Khairun dan setelah beliau dikenal pula Sultan Baabullah (1570-1583)—Sultan Babullah yang semasa kecilnya dilatih oleh dua orang Salahakan atau Kapita yakni Salahakan Sula dan Ambon. Kejayaan Ternate ini pada masa-masa kolonialisme dan imprelaisme Portugis dengan diusirnya Portugis dari Bumi Moluku tak lepas dari peran seorang Panglima handal sebagaimana diketaui Panglima itu yakni Panglima Sula—Kapalaya dan Kalkinka—antara panglima Kapalaya dan dan kalkinka merupakan prajurit handal yang dianggap sebagai seorang yang kuat ketika berhadapan dengan musuh dalam medan pertempuran dan tak memberi ampun.

Jika perbuatan musuh itu menyalahi aturan, tradisi dan sebagaimana keperyaan Agama secara primordial dan kontingensi, maka tentu mereka akan mendapat perlawanan dari kedua panglima handal tersebut. Oleh karena itu, Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Baabullah mendapat posisi yang baik secara politik, maupun secara agamis, sebab, Sultan Babullah di samping berdagang, berperang Sultan Babullah pula melalukan penyebaran Islam hingga ke Goa. Dan Sultan Babullah pun digelari sebagai seorang penguasa 72 Pulau berpenghuni. Valentijn menuturkan secara rinci nama-nama ke-72 pulau tersebut] sampai menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh & Demak yg menguasai wilayah barat & tengah nusantara kala itu.

Belajar Dari Panglima Sula

Ketika kita mengulas atau merefleksi kembali sepak terjang Panglima Sula maka ada terdapat banyak hal yang harus diperoleh yakni, sebagai manusia-manusia Sula—Matapia Sua—selalulah kita berpegang teguh terhadap prinsip, membela kebenaran dan menegakkan keadilan.
Ilmu menjadi landasan kuat agar kita sebagai Matapia Sua lebih memahami arti kehidupan diri kita, sebagaimana dalam Agama, jika kita mengenal diri maka kita akan mengenal Tuhan. Tentu, dengan hal ini kekuatan itu lebih baik dan bijak. Kemudian, upaya menumbuhkan sikap yang berfalsafah sangatlah penting—kata berfalsafah artinya hidup dengan penuh kesederhanaan, bijak dan merasa cukup—bila ada yang sangat membutuhkan maka wajib membantu sebagai bentuk perwujudan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Penulis adalah pengurus Ikatan Pelajar mahasiswa Kota Ternate-Makassar (IPMKT-Makassar) dan pegiat pelajar Filsafat.

loading...
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Most Popular

loading...
To Top
%d blogger menyukai ini: