Banner-Pemkot-Mks
Opini

Pendidikan dan Kesadaran “Sebuah Perspektif”

Oleh: Arsyad (Pemerhati Pendidikan)

Dalam sejarah pendidikan di nusantara, kegiatan pendidikan dijadikan sebagai bekal penting dalam menjadikan anak/generasi sebagai makhluk sosial yang berperilaku baik dan sopan santun serta beradab. Sehingga kesadaran-kesadaran itu muncul dengan membawa damai dan menjadi pegangan masyarakat secara luas.

Begitupun pada masa kedatangan Islam, pendidikan banyak dilakukan di tempat-tempat ibadah dengan Ilmu yang diajarkan adalah tentang tata cara bermasyarakat dan menjaga stabilitas sosial. Jadi, tidak heran jika ilmu sosial manusia masa itu baik, rukun, damai, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, giat pendidikan juga banyak dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yang sering kita istilahkan pendidikan dalam keluarga atau pendidikan informal. Pendidikan informal ini sangat penting karena secara emosional, orang tua sangat dibutuhkan dalam pembentukan karakter anak-anaknya sebagai persiapan menjadi bagian dari masyarakat yang beradab dan berkesadaran sosial.

Agak berbeda dari konteks hari ini, tidak sedikit anak-anak telah jauh dari didikan dari orang tuanya bahkan ada juga yang sama sekali tidak memiliki luang untuk itu. Dengan berbagai macam aktifitas yang menyibukkan, manusia bagaikan mesin yang hanya butuh waktu sesaat untuk istirahat.

Padahal meluangkan waktu bersama anak adalah kebutuhan bagi anak-anak yang umurnya dalam proses pertumbuhan. Kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan oleh anaknya dan sebaliknya kasih sayang anak adalah kebahagiaan orang tua. Jadi tidak heranlah kita jika melihat ada anak yang kurang patuh pada orang tuanya, karena memang hubungan itu tidak dijaga dengan baik. Sehingga itulah yang akan menjadi karakter hingga kelak dia menjadi mahasiswa ataukah orang tua dan hidup di lingkaran sosialnya.

Karakter sadar merupakan hal pokok yang menjadi orientasi pendidikan. Menempuh jalur pendidikan formal diharapkan memiliki alasan dan langkah lebih produktif. Dibutuhkan kecintaannya dan kelingin tinggi untuk mendapatkan ilmu serta membuat ilmunya itu bermanfaat melalui beragam aktualisasi. Hal tersebut guna menambah khasanah keilmuan yang maju dan bernilai.

Buah pendidikan juga bisa kita lihat dari cara mereka menjalani hidup, perilaku dalam bermasyarakat, dan lainnya yang berkaitan dengan sosialnya. Meskipun profesi biasanya menjadi cikal-bakal ukuran penilaian bahwa orang itu berkualitas atau tidak.

Seperti jika jabatan yang tinggi didapatkan oleh dia yang kompetensinya biasa saja. Sebaliknya orang yang tadinya berkompeten di sekolah kadang hanya memiliki profesi guru honor ataukah petani tapi hidupnya bahagia karena jiwanya sadar.

Begitupun dengan mahasiswa yang berasal dari kampung, telah menempuh pendidikan sarjana hingga master, lalu kembali ke kampung halamannya menjadi seorang petani, ini kadang dianggap sebagai hal yang lucu dan mendekati ketidakwajaran.
Paradigma seperti ini merupakan hegemoni bagi kita karena seakan tolok ukur keberhasilan pendidikan hanya ditinjau dari satu perspektif saja. Padahal kita juga perlu melihat hal lainnya seperti kemampuan peserta didik dalam menonjolkan asas manfaat berupa kesadaran sosial.

Keberhasilan pendidikan bukan diukur dari distribusi SDM semata tapi juga dari asas manfaat dan kesadaran. Perguruan tinggi/sekolah bukanlah sentra lahirnya pengangguran melainkan wadah produksi generasi bangsa yang baik dan beradab. Sebagaimana yang tercantum dalam tri darma perguruan tinggi yaitu, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Hal pokok yang menjadi pencapaian perguruan tinggi bukanlah profesi, bukan jabatan, bukan tahta, dan bukan pula kekuasaan. Tapi yang seharusnya jadi capaiannya adalah mencetak generasi yang sadar dan beradab serta memiliki dedikasi yang tinggi terhadap masyarakat secara luas.

Salah satu bentuk keberhasilan pendidikan yaitu, jika seorang sarjana yang pulang di kampung halamannya dan melanjutkan aktifitasnya di sawah sebagai petani, sebagaimana aktifitas tersebut merupakan kebiasaannya sejak kecil. Tolok ukur keberhasilannya adalah jika terjadi perbedaan iklim di sawah saat sebelum kuliah dan setelah kuliah.

Sebelum kuliah, saat ke sawah sering marah dan emosi karena kepanasan sehingga aktifitas kurang produktif. Sebaliknya, setelah sarjana, kita sadar bahwa ketika panas matahari menancap tajam di tubuh, maka panas itu dijadikan sebagai bentuk kesyukuran dan Keagungan Sang Pencipta.

Sehingga aktifitas yang tadinya dikerjakan dengan emosi dan kurang sabar dan melahirkan hasil yang kurang maksimal, maka kini aktifitas itu menuai hasil yang luar biasa karena dalam melakukannya. kita selalu menyertainya dengan pikiran positif, tenang, sabar, konsentrasi, serta khusyuk.

Inilah bentuk keberhasilan pendidikan pada kita, bukan gengsi dalam beraktualisasi tapi lebih khusyuk dan mempertajam konsentrasi dalam menjalankan aktifitas, hingga pikiran damai setiap saat.

Nilai-nilai kesadaran inilah yang perlu terbangun dalam diri setiap peserta didik di dunia pendidikan dalam rangka merekonstruksi pola pikir yang lebih produktif dan inovatif. Pada gilirannya, nilai-nilai kesadaran akan melahirkan manfaat seluas-luasnya bagi umat, bangsa, dan agama.

loading...
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Most Popular

loading...
To Top
%d blogger menyukai ini: