Nelayan dan Pentingnya Kesadaran Ekologi

oleh
Sopian Tamrin

(Kajian Sosioekologi sebagai alternatif membangun kesadaran nelayan)

KETIKA suara tawar menawar menyatu dengan suara ombak. Ini adalah kalimat awal untuk menggambar suasana dimana aku berdiri saat ini. Di tempat ini Anda bisa memilih makan di pinggir pelelangan atau dibungkus untuk keluarga. Aktivitas masyarakat Nelayan dusun Beba, Desa Tamasuju Kec. Galesong Utara Merupakan sentral Ekonomi Maritim di Kabupaten Takalar.

Selepas shalat subuh tempat ini mulai ramai sampai jam 10 Pagi. Masyarakat yang datang mulai dari Ibu Rumah tangga yang membeli sekadarnya untuk komsumsi sehari-hari sampai Distributor untuk kebutuhan Rumah Makan. Harga yang cukup Murah menjadi pertimbangan utama masyarakat memadati tempat ini.

Meskipun kelihatannya transaksi berlangsung lancar namun tak jarang nelayan harus tinggal puluhan hari di tengah laut demi tangkapan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pada kondisi penghujan seperti ini bukan tidak mungkin mereka sadar bahwa telah mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah harapan hidup. Mereka harus terbiasa dengan suasana laut atau mungkin telah bersahabat dengan keganasan ombak laut galesong utara.

Hmmm mungkin mereka lebih layak diapresiasi sebagai pelaut ulung sang penakluk badai. Nelayan tidak semata menjadi kunci pekerjaan yg membangun relasi terhadap masyarakat(Manusia). Kesehariannya sebagai pencari dan penangkap ikan telah mengukuhkan relasi dirinya dengan Laut(Alam). Berada ditengah laut adalah pilihan berani yang mencoba melawan rasa takut sampai takutnya pun mati.

Keberanian itu tak lahir independen ternayata mereka memulainya dengan Doa/ritual sebagai bentuk spiritualitas terhadap penguasa Alam. Setelah memahami ini semua penting untuk memaknai setiap suapan ikan yang anda nikmati berarti anda telah menjadi bagian pekerjaan Nelayan. Dari uraian singkat ini saya ingin menyampaikan dua konsep Kunci Paradigma Sosiologi Kosmik yakni sebagai berikut;

1). Interpretasi, Proses Interpretasi hemat saya perlu melibatkan kesadaran sejarah agar melahirkan makna yang utuh(Interpretasi Kosmik). Artinya Interpretasi terhadap Fenomena sosial akan tersingkap bila kita mampu menelusuri jejak kauslitasnya. Membuka ruang keterlibatan Unsur Alam dan Tuhan sebagai suatu kesatuan kesadaran nelayan.

2). Relasi, Aktivitas nelayan bukan sekedar membangun relasi terhadap manusia dalam kesehariannya namun menunjukkan bentuk relasi terhadap Alam(Laut) dan aktivitas berdoa/ritual Terhadap Penguasa Alam (Tuhan).

Masyarakat nelayan di Dusun Beba,Desa Tamasuju Kecamatan Galesong Utara Kab. Takalar menjadikan Pelelangan sebagai Setrum Kegiatan Sosial ekonomi. Namun Kesadaran akan Kebersihan lingkungan masih minim sehingga bisa mengganggu kesehatan dan berimplikasi terhadap produktivitas kerja.

Saran: Sepertinya Perlu Penyuluhan Sosioekologi (Salah-satu bagian dalam Sosiologi Kosmik) untuk mengenalkan kesadaran lingkungan. Hal ini menjadi penting dalam menjaga keberlangsungan relasi Manusia-Alam dan Tuhan sebagai satu kesatuan dalam realitas kosmik. Kelanggengan relasi hanya bisa terwujud pada perilaku yang seimbang. Artinya Nelayan tetap mempertimbangkan cara penangkapan ikan tanpa pengeboman yang bisa merusak ekosistem biota laut.

Keseimbangan relasi adalah keharusan etik dalam eksitensi. Alam menyediakan segala kekayaannya bukan berarti manusia menggerus sepuas hasratnya. Tidak juga untuk kepentingan pasar semata melainkan perlu menghadirkan Tuhan pada setiap berhubungan dengan alam.

Tentunya bukan menghadirkan Tuhan sebagai zat tapi sebagai sifat. Sehingga relasi kasih dan sayang antara Nelayan (Manusia) dan laut (Alam) terjalin harmonis. Ketika nelayan memahami kecenderungan tersebut maka ia telah memahami arti cinta dalam pekerjaan. Wallahuallam bissawab.

Penulis ;Sopian Tamrin, S.Pd.,M.Pd
Dosen STIE WIRA Bhakti Makassar dan Staff Pengajar FIS UNM

Tinggalkan Balasan