Siswa Athirah Ditantang Jadi Pemuda Islam Masa Kini

oleh
Siswa Athirah Ditantang Jadi Pemuda Islam Masa Kini

Ilmaddin Husain
Guru SMA Islam Athirah
Melaporkan dari Makassar

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Di era globalisasi saat ini, pemuda Islam diperhadapkan pada berbagai macam bentuk godaan dan kerusakan. Sebab itu, pemuda Islam dituntut berpegang teguh pada ajaran dan nilai-nilai keislaman yang terdapat dalam Quran dan Hadis.

Sehubungan dengan itu, ratusan siswa-siswi Sekolah Islam Athirah mengikuti motivasi keagamaan dan pembinaan karakter di Auditorium Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolaliddo, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (8/2/2018).

Kegiatan diikuti ratusan siswa SMA Islam Athirah Kajaolaliddo dan Bukit Baruga. Hadir dalam kegiatan, Kepala Depertemen Kurikulum, Mas Aman Uppi, SPd MPd, Kepala SMA Islam Athirah Kajaolaliddo Tawakkal Kahar SPd MPd, dan Wakasek Kurikulum SMA Islam Athirah Bukit Baruga Dr Bakry. Hadir mendampingi siswa beberapa guru diantaranya Dra Salmiaty, Sumardi SPdI MPdI, dan Abdul Azis SPd, dan Ilmaddin Husain SPd.

Narasumber Dimas Adista mengatakan, pemuda Islam zaman sekarang jangan terbawa kondisi zaman. “Kita tidak dapat memengaruhi orang lain bila kita tidak memiliki perilaku yang baik. Kita jangan jadi korban zaman. Sebaliknya, kita harus mengalahkan zaman,” katanya.

Kegiatan ini bertema “Pemuda Islam Zaman Now”. Para siswa mengikuti training motivasi dan karakter dengan antusias. Materi disampaikan dengan contoh-contoh kekinian, sehingga mudah dipahami peserta.

Pemuda Islam, kata Dimas, saat ini dipengaruhi oleh narkoba, internet, dan rokok. “Jangan buka yang macam-macam di internet. Jangan merokok. Jangan berpacaran, karena berpacaran itu membuat kita rugi,” ucapnya.

Pemuda sepatutnya memahami makna hidup. “Detik ini, kalian harus paham arti hidup. Sebagai muslim, makna hidup kita adalah berupaya mencari surga Allah SWT,” ujarnya.

Betapa penting dan berharganya menjadi muslim sejati. Kalau takut kepada Allah SWT, maka tidak mungkin berbicara yang kasar kepada kedua orang tua. Kalau takut kepada Allah, maka tidak membuka hal yang macam-macam di Instagram,” kata Dimas.

Media sosial, kata Dimas, hanya digunakan untuk mencari keterkenalan. “Remaja sekarang 5 menit sekali melihat gadget. Hanya untuk mendapatkan like dan komentar. Ujung-ujungnya mengejar famous. Kalau begitu, apa makna hidup kita?” ujar motivator asal Jakarta ini.

Ada pendapat dikalangan remaja bahwa menjadi nakal adalah cara agar dikatakan keren. Padahal, tidak demikian adanya. Untuk menjadi keren, haruslah menjadi pemuda muslim yang taat. “Kalau kita bisa menghafal Quran, sama halnya memberi mahkota kepada ayah dan ibu,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan