Ternyata Toleransi itu Nyata Adanya

oleh

Oleh : Sandi Darmawan
Kader IMIKI Cabang Makassar

HAMPIR seminggu saya dan tujuh orang kawan lainnya berada di Kelurahan Bokin Kecamatan Rantebua Kabupaten Toraja Utara.

Bukan datang untuk liburan atau mengunjungi tempat-tempat wisata yang memang banyak di kabupaten pemekaran tana toraja ini. Seperti lolai (Negeri di atas awan), Kete kesu’, Londa, dan Massayo.

Kami berdelapan menetap untuk semntara waktu (45 HARI) di wilayah tersebut untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Selama hampir seminggu kami berkeliling kampung ( Observasi) mulai dari rumah warga, Sekolah, Masjid, Gereja dan Pasar. Tanpa kendaraan roda dua atau empat. Kami menggunakan kaki dengan alas seadanya mengitari perkampungan tersebut.

Orang-orang sangat ramah, mereka selalu menyapa kami ketika bertemu di jalan atau sedang berpapasan. Anak-anaknya juga sangat baik ketika di ajal bercerita, tanpa di tuntut dan dihadiahkan permen ia sangat terbuka untuk bercerita tanpa.

Perasaan canggung ia juga menceritakan kampung halamannya dengan aksara toraja yang masih sangat kental. Terkadang pula kami beristirahat di tongkonan warga saat lelah berjalan kaki, Tanpa meminta warga yang melihat kami menawarkan minuman karena mungkin melihat kami nampak lelah.

Sebagian besar penduduknya beragama kristen, selebihnya beragama islam. Namun meski tak seimbang jumlahnya, selama berada di sini kami tak melihat ada skat fanatisme beragama.

Mereka hidup berdampingan tanpa saling melecehkan keyakinan masing-masing. Saling menghotmati satu sama lain.

Justru kami melihat toleransi yang sangat besar antara pemeluk-pemeluk agama besar itu. Baik mereka yang telah dewasa maupun anak-anak seumuran adikku yang kini duduk di bangku kelas 5 SD.

Seperti kejadian kemarin, Setelah menunaikan shalat ashar secara berjamaah di masjid yang tak jauh dari posko kami, Anak-anak yang beragama Islam mengajak temannya yang beragama kristen untuk bermain bersama, begitu tiba adzan magrib anak-anak yang beragama kristen justru yang berinisiatif menghentikan permainan, dengan maksud agar kawannya yang beragama Islam segera masuk ke masjid.

Kejadian – kejadian seperti itu membuat kami takjub dan kagum, betapa besar toleransi yang di praktekkan anak-anak tersebut.

Tak hanya kejadian itu, kami juga menemui hal yang kian membuat kekaguman kami kian bertambah besar. Yakni sebuah sekolah madrasah ibtidaiyya ( SD Islam) yang memasukkan anak-anak yang beragama kristen di sekolah tersebut untuk sama-sama di didik tanpa membeda-bedakan.

Sesaat kami fikir bahwa pendidikalah yang sebenarnya membuat toleransi itu dapar tumbuh ataupun di matikan sama sekali.

Saya kini percaya bahwa toleransi antara ummat beragama bukan hanya ada di teks-teks opini para relawan agama kemanusiaan, bukan pada buku-buku fiksi hasil.imajiner penulis cadas dan film-film buatan para cinemator.

Ia benar-benar nyata tepat di tempat kami menghirup udara segar saat ini. (*)

Tinggalkan Balasan