Pendidikan dan Pemimpin Terdidik

oleh
Arsyad

Oleh: Arsyad (pemerhati pendidikan)

PENDIDIKAN sering diterjemahkan sebagai usaha menyambungkan antara nalar satu dengan lainnya dalam menciptakan akhlak sosial.

Pendidikan mengajarkan manusia untuk berbudi pekerti, sopan santun, dan tidak melakukan intimidasi. Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional bab 1 pasal 1 ayat 1 diterangkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Potensi yang termuat dalam pengertian pendidikan bukan hanya digunakan untuk kepentingan satu orang tapi juga menjadi media penyemangat bagi seluruh manusia. Seperti halnya di jaman dulu, dalam praktek penyelenggaraan pendidikan, guru adalah pahlawan intelektual dalam kelas, guru menjadi sosok yang menjadi sandaran bagi seluruh peserta didik.

Jika peserta didik merasa masih ada yang belum dimengerti terkait isi pelajaran, maka guru melakukan kreasi dan berusaha sampai peserta didiknya bisa memahami bahkan mengamalkan.

Bukan hanya aspek pengetahuan, tapi juga guru merupakan sebagai gudang budi pekerti dengan bercirikan sosok berakhlak yang mulia dan selalu menjadi panutan bagi peserta didiknya.

Segala keadaan dan kondisi peserta didik selalunya dimengerti oleh sang guru bahkan sampai pada rana solusi permasalahan, selalu menjadi kelebihan khusus bagi seorang guru dalam memahami gerik anak didiknya.

Sebaliknya, peserta didik yang telah mendapatkan didikan dari gurunya biasanya juga menyimpan rasa empati terhadap sang guru.

Biasanya dilihat dari perilaku peserta didik yang segan, patuh, taat, dan selalu hormat terhadap gurunya. Ini adalah bentuk kausalitas bahwa dibalik penghargaan peserta didik, ada keikhlasan, niat yang baik, serta ada doa-doa seorang guru yang lebih mengedepankan asas-asas kemanusiaan dalam proses pendidikan.

Guru teladan akan menghasilkan manusia-manusia berbudi pekerti dan dapat menjadi pewaris kebijaksanaan gurunya. Semakin banyak guru yang berperilaku seperti itu, maka semakin banyak juga peserta didik yang baik dan produktif untuk digunakan dalam berbagai lembaga kenegaraan.

Jika peserta didiknya potensial menjadi seorang dokter maka dia akan menjadi dokter yang mengamalkan nilai-nilai pendidikan, jika dia adalah seorang pemimpin, maka dia akan menjadi pemimpin yang baik dan mengabdikan dirinya untuk melayani seluruh rakyatnya tanpa pilih kasih. Pemimpin yang mengamalkan nilai-nilai pendidikan memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara sangatlah tepat dalam mengurusi umat.

Sentuhan didikan guru yang penuh ikhlas dan kasih sayang, akan melahirkan seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya. Jika berjanji maka akan menepati, inilah contoh pemimpin terdidik dan idealnya yang menjadi prioritas dalam filterisasi kepemimpinan bangsa.

Namun, di masa digital ini susah untuk ditebak mana yang baik dan mana yang buruk. Popularitas di media sosial seakan menjadi hal yang nyata dan kelihatannya sekuat tenaga untuk membuat masyarakat percaya dengan tampilan media sosial.

Citra baik dan buruk biasanya laku dalam membandingkan tingkat kepercayaan publik. Padahal pencitraan kulit yang bersih tidaklah menjamin sehatnya nurani dan isi dalam diri seorang manusia.

Maka dari itu pantaskah kita percaya dengan orang yang suka mempromosikan diri dengan tujuan mendapat pengakuan bahwa dia adalah orang baik? Jawabannya kembali pada pembaca yang cerdas dalam membawa dirinya ke arah mana.

Pemimpin yang terdidik akan menghargai rakyatnya dan seterusnya memberikan yang terbaik dalam kepemimpinannya. Sikap pemimpin yang baik akan menghormati para guru bangsa karena karakter didikannya memang telatih untuk hormat terhdap guru sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan terima kasih. Untuk memimpin orang tua, tentunya tidak menekan karena dalam konsep pendidikan, orang tua adalah orang yang sangat berjasa dalam mewarnai proses kita.

Posisi orang tua akan dimuliakan oleh pemimpin yang berpendidikan. Saat memimpin anak-anak, seorang pemimpin akan menjadi pengasih dan penyayang karena ada rasa sadar bahwa kita juga pernah menjadi anak-anak dan didikannya untuk menjadi anak yang baik.

Sebagaimana fungsi pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi peserta didik dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang baik, sebagaimana dalam tujuan pendidikan nasional yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertnggung jawab.

Pengamalan nilai dan tujuan pendidikan tersebut adalah kaum disebut terdidik, sebagaimana jika dia adalah leader, maka orang itu berhak menyandang predikat pemimpin yang terdidik.

Tinggalkan Balasan