Menelaah Sistem Pendidikan Sekolah dalam Kacamata Freire

oleh
Penulis: Karman Kurniawan

Anggota Study Club Rumah Kata

BERITA-SULSEL.COM – Banking concept of education, merupakan istilah yang dilontarkan Paulo Freire mengkritik realitas pendidikan yang terjadi di Sekolah,  istilah ini bermakna bahwa sistem pendidikan yang berkembang diandaikan sebagai sebuah “bank”.

Dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan agar ia kelak mendatangkan hasil berlipat ganda, kondisinya mereka tidak jauh berbeda dengan komoditi ekonomi.

Lewat karya buku berjudul Pedagogy of Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas), Freire mengkritik sekaligus merumuskan gagasan tentang hakekat pendidikan, Ia beranggapan bahwa pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri yang berujung pada penyadaran sebagaimana inti dari sebuah proses.

Deskripsi singkat Freire tentang hakekat pendidikan itu sendiri secara tidak langsung menggugat sistem pendidikan sekolah yang ada di Indonesia.  Seperti yang diketahui bersama, lahir sebuah kesan dibangku sekolah yang seakan-akan angka yang terpampang di nilai rapor siswa lebih penting ketimbang pahamnya seorang siswa tentang mata pelajaran yang diterimanya.

Jika kita mundur ke belakang mengingat rentetan perjalanan pendidikan kita di bangku Sekolah Dasar (SD), kesan pragmatisme jelas terlihat ketika guru mulai menanyakan cita cita anda di ruangan kelas.

Jawabannya pun cukup beragam,  ada yang bercita cita menjadi seorang dokter,  pilot, anggota marinir,  dan sebagainya. Sistem yang dibangun tidak jauh beda dengan konsep pendidikan “Bank” jika kita kembali merujuk pada kritikan Freire.

Bagaimana Dengan Mentalitas Peserta Didik?

Sudah menjadi rahasia umum,  jika kebiasaan mencontek merupakan tindakan manusiawi bagi peserta didik, belum lagi lahirnya persepsi bahwa pendidikan sekolah yang didapatkan lebih mementingkan nilai hasil ujian ketimbang kejujuran siswanya dalam mengerjakan soal.

Disituasi yang berbeda, Di Sekolah kita terkadang lebih merindukan bel jam istirahat berbunyi ketimbang bel masuk kelas untuk menerima pelajaran.  Kita juga terkadang lebih senang ketika guru tidak hadir di kelas mengisi pelajaran ketimbang harus mendengarkan penjelasan materi yang lengkap dengan buku panduannya.

Secara mentalitas,  kesimpulan yang bisa ditangkap dari beberapa ulasan diatas mencerminkan bahwa sistem pendidikan di Sekolah sudah tidak menarik lagi di kalangan pelajar,  mengingat pola pengajaran yang cenderung monoton dan tidak dialektik.

Kecenderungan metode belajar yang searah yang diterapkan tenaga pengajar membuat siswa perlahan pasif mengekplorasi pikirannya.

Kemungkinan terburuk dari pola transformasi pengetahuan searah  yang dilakukan pendidik ialah lahirnya kesan bahwa kebenaran hanya muncul dari sang pengajar, padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa guru mestinya menjadi fasilitator untuk peserta didik mengembangkan potensi yang dimilikinya dan punya keberanian menggali sebanyak mungkin referensi tentang mata pelajaran yang didapatkannya.

Freire sendiri menyebutnya dengan istilah “nekrofili”, Filsuf Brazil itu menggambarkan situasi dimana murid akan menjadikan dirinya duplikasi dari guru gurunya, dan pada saat itulah lahir generasi baru manusia manusia penindas.

Kata Penindas sendiri dipilih Freire dikarenakan Sistem pendidikan yang terbangun seakan membunuh sekaligus menindas kreativitas dan nalar kritis peserta didik sebagai seorang manusia yang merdeka secara berpikir.

Untuk menjawab persoalan tersebut,  Freire berasumsi bahwa pendidikan humanistik ialah pendidikan yang berorientasi pada penyadaran siswa sebagai manusia yang sadar secara moral sebagai individu dan makhluk sosial.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *