Suksesnya Pegusaha Kripik Singkong Lamasi

oleh

Ilmaddin Husain

Wakil Sekretaris LDII Sulsel

Melaporkan dari Luwu

BERITA-SULSEL.COM – WIRAUSAHAWAN harus memiliki kreativitas dan mampu menangkap potensi. Itulah bekal yang perlu dimiliki oleh wirausahawan di era persaingan yang ketat saat ini.

Bekal inilah yang ditangkap oleh Zainal Fatah, seorang usahawan kripik singkong asal Desa Wetan Timur, Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Melimpahnya jumlah singkong, mendorongnya bergelut di dunia bisnis ini.

Pengusaha Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ini telah menggeluti bisnis kripik singkong sejak 2012 lalu. Setelah enam tahun menggeluti bisnis singkong yang bernama latin Manihot Esculenta ini, Zainal Fatah mulai merasakan buah manis berwiraswasta.

Dalam satu hari, ia dan karyawannya bisa mengolah 150 sampai 200 kg ubi kayu. Sehari, ia menghabiskan 8 tabung gas elpiji. Bahkan, ubi kayu harus didatangkan dari Desa Bone-Bone, Kabupaten Luwu Utara.

Jarak antara Lamasi dan Desa Bone-Bone sejauh 91 km. Jumlah permintaan ubi sebenarnya masih bisa ia tambah, bila didukung alat penggoreng dan pemotong yang lebih modern.

Berbekal ilmu yang diperolehnya dari seorang kolega, ia merintis usaha kripik singkong ini dari bawah. Imbas dari usahanya, petani ubi kayu merasa senang dan diuntungkan.

Pasalnya, berkat usaha ini, permintaan dan harga ubi tergolong stabil. Ubi kayu mentah sebanyak 1 kg dihargainya sebesar Rp 2 ribu. Harga ubi tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak.

Dari usaha kripik singkong, ia meraup omzet minimal Rp 1 juta per hari. Menurutnya, banyaknya permintaan kripik belum bisa ia penuhi.

Kendalanya pada alat penggorengan dan alat pemotong yang masih perlu dikembangkan. Dengan mesin pemotong yang lebih canggih, bisa mengirit tenaga dan hasil produksi lebih banyak. Untuk karyawan, saat ini ia mempekerjakan 8 orang.

Konsumen tetapnya adalah para pedagang kaki lima. Mereka adalah pedagang dari Kecamatan Lamasi, Kota Palopo, Kabupaten Toraja, dan Kabupaten Mamuju. Pemerintah Desa Wetan Timur, kata Fatah, pernah memintanya menjadikan kripik sebagai oleh-oleh bagi pejabat di tingkat kabupaten.

Fatah membuat dua varian rasa kripik, yaitu rasa pedas manis dan balado. Harga jual keripik singkongnya terbilang murah. Rasa pedas manis lebih digemari oleh konsumen.

Untuk mengupas ubi, ia mempekerjakan warga sekitar desa. Ubi yang berkualitas, kata Fatah, bisa bertahan maksimal hingga 3 hari. Adapun ubi yang tidak dapat diolah, Fatah jadikan sebagai pakan sapi.

Ia berharap pemerintah setempat membantu mengembangkan usahanya. Harapannya, pemerintah memberi bantuan modal untuk keperluan pembelian alat penggorengan yang berkapasitas jumbo dan mesin pemotong.

Selain itu, perlunya pengemasan produk lebih modern, sehingga kripik singkongnya lebih mudah dikenali konsumen. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *