Sinergi adalah Kunci Refleksi HUT Sulsel ke – 349

oleh
Arham Basmin

Penulis: Muhammad Arham Basmin (Politisi Partai Nasdem Sulsel)

Tanpa mengurangi rasa khidmat dan belasungkawa kepada saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, peringatan HUT Sulsel ke-349 tetap perlu dijadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi. Tiga setengah abad adalah perjalanan panjang, yang telah menorehkan catatan sejarah.

Kita semua tentu memiliki catatan sejarah itu, mungkin dengan sudut pandang berbeda. Tapi, dari manapun kita berasal, dan dengan perspektif apa kita melihatnya, jauh lebih penting adalah kita hendak kemana.

Sulsel hingga kini masih menjadi gerbang Timur Indonesia. Ini semua tak lepas dari sejarah, namun pula yang menentukan adalah letak strategis wilayah yang menjadi jembatan penghubung ke wilayah Timur lainnya. Tapi, letak strategis itu, kini mulai tergerus. Tanpa perlu melewati ‘gerbang’, lalu lintas daerah dan hubungan antar negara kini bisa lebih intens dan kompleks. Hari ini kita telah berada di era revolusi industri 4.0, dengan produk-produk digital yang membuat hidup makin efisien. Meski tak bisa dipungkiri, era digital, jika tak direspon dengan tepat, ia bisa menghadirkan disparitas antar kelas, juga antar daerah.

*Mendukung pusat

Lalu, Sulsel hendak kemana di usia 349 ini? Ada banyak asumsi muncul untuk memberikan jawaban. Dengan potensi geografis, struktur topografi, dan ‘bonus’ demografi, Sulsel memiliki masa depan yang cerah. Beberapa daerah yang merupakan wilayah pesisir dan pegunungan, menyimpan kekayaan tak ternilai untuk dieksplorasi.

Geliat pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat menunjukkan bahwa kini pengelolaan negara sedang berada di jalan yang tepat. Pemerintah menempatkan infrastruktur sebagai hal fundamental untuk mengatrol perekonomian nasional. Di sisi lain, kebijakan pemerataan harga bahan baku seperti semen dan BBM, dengan mengambil contoh Papua, adalah sebuah bentuk intervensi yang sudah lama ditunggu, demi mengimplementasikan amanah falsafah negara, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Tentu, kita tidak ingin melihat pemerintah bekerja sendiri. Semua pihak, juga pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) agar mampu menerjemahkan komitmen pemerintah untuk penguatan basis ekonomi melalui pemerataan pembangunan. Selama ini, skema otonomi daerah, lebih cenderung menghadirkan daerah kaya menjadi makin kaya, sementara geliat daerah lainnya memiliki percepatan pembangunan yang tak optimal. Terlihat geliat pembangunan, namun cenderung parsial.

Pembangunan yang parsial mungkin terjadi sebagai dampak dari penyelenggaraan otonomi daerah. Kondisi yang seharusnya segera ditinggalkan, dengan jalan duduk bersama dan membuat racangan bersama, sehingga pembangunan di berbagai sektor dan lintas daerah bisa berjalan secara terintegrasi. Ini juga bisa bermakna, kekayaan lokal perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai endogenous yang menjadi karakter masing-masing daerah.

*Sinergi adalah kunci

Gubernur yang baru terpilih untuk periode 2018-2023, Nurdin Abdullah, saat kampanye mengenalkan tagline kerja nyata, yang mencerminkan semangat menjunjung kapasitas dan kompetensi. Ini sejalan dengan visi Inovatif, Produktif, Kompetetif, Inklusif dan Berkarakter. Ke-lima point tersebut adalah satu kesatuan yang saling terkait. Inovasi bermakna, Sulsel dapat menghasilkan gagasan-gagasan produktif dan baru untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Kompetitif dan produktif bermakna kesiapan SDM juga produk barang dan jasa untuk yang tidak hanya mampu terserap, tapi juga menciptakan pasar. Sementara, inklusif adalah gambaran kondisi lingkungan yang ramah dan sikap warga Sulsel yang terbuka dan toleran. Sedangkan berkarakter, menunjukkan spirit pembangunan yang lahir dari budaya masyarakat Sulsel.

Kelima visi tersebut menjadi modal kuat untuk membawa Sulsel mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Namun, sekali lagi, semua mimpi yang akan kita tuju itu hanya bisa terwujud dengan ketersediaan ruang untuk bekerja bersama, bersinergi.

Sinergi adalah kunci untuk mewujudkan pembangunan yang terintegrasi, membawa Sulsel bukan lagi sekadar gerbang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *