Polisi Bongkar Jaringan Joki Tes CPNS di Makassar, Dokter dan PNS Terlibat

oleh
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani berikan keterangan pers

BERITA-SULSEL.COM – Polisi menangkap seorang Pewagai Negeri Sipil (PNS) di Kota Makassar bernama Andi Slamet alias Memet (30) karena menjadi sindikat joki ujian CPNS Kementerian Hukum dan HAM.

Memet yang bertugas dibidang koperasi Pemkot Makassar ditangkap diciduk polisi di rumahnya di Kecamatan Bontoala pada Rabu (7/11/2018).

Dilansir dari merdeka.com (8/11/18), Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, tes CPNS Kementerian Hukum dan HAM dilaksanakan di Gedung RRI Makassar, Jalan Riburane.

Kata dia, pelaku membuat identitas palsu untuk digunakan ikut tes atau ujian menggantikan peserta ujian yang sesungguhnya.

Sebelum menangkap Memet, jelas Dicky, pihaknya juga menangkap Muhammad Rusnan (33), warga Kecamatan Biringkanayya. Mereka bertugas membuat identitas palsu peserta ujian CPNS.

“Cara kerja mereka dengan melakukan scan kartu ujian dan foto peserta, kemudian membubuhkan stampel palsu,” ujarnya.

Kata Dicky, polisi masih memburu tujuh orang yang masuk dalam sindikat ini. “Sebelum Andi Slamet dan Rusnan, enam orang telah ditangkap lebih dulu,” jelasnya.

Enam orang yakni Martin Tumpak Rumapea, Ahmad Lutfi, Hamdi Widi dan Adi Putra Sujana, Musriadi dan broker Wahyudi yang juga seorang dokter di bagian kesehatan salah satu BUMN besar di Makassar.

“Perjokian ini terbongkar saat foto di kartu ujian dan di KTP tidak ada kesesuaian saat petugas melakukan verifikasi. Setelah satu tertangkap, lalu dikembangkan dan akhirnya dapatlah jaringannya dengan perannya masing-masing,” terangnya.

Kata Dicky, dokter Wahyudi adalah mentor di lembaga bimbel ujian CPNS. Sebelumnya, terjadi komunikasi antara peserta bimbel dengan menawarkan joki.

Hal tersebut dilakukan jika calon peserta ujian CPNS merasa tidak sanggup menyelesaikan soal ujian yang dirasa berat.

“Dari disnis joki CPNS pelaku bisa mendapatkan Rp75 juta. Sementara Andi Slamet, mengaku akan dibayar Rp5 juta,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *