oleh

Perguruan Tinggi dan Gerakan Anti-Rasionalisme

-Opini-281 views

Oleh: Amir Muhiddin
Dosen Pemerintahan Fisip Unismuh Makassar
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan.

BERITA-SULSEL.COM – Gerakan anti rasionalisme kini sedang melanda dunia, termasuk Indonseia. Gerakan ini lahir tanpa direncanakan, tumbuh dan berkembang
diseantero dunia tanpa batas dan tanpa ada yang bisa mengendalikan apalagi menghentikan.

Gerakan ini benar-benar membuat pola pikir, sikap dan perilaku manusia menjadi kacau dan mengalami turbelenci.

Apa yang selama ini dipahami dan diyakini bahwa itu benar, kemudian menjadi ragu hingga akhirnya disebut sebagai suatu kesalahan, dan ini berlangsung terus, berputar dan berdialektika hingga yang salah sekalipun kemudian menjadi benar.

Sayangnya dialektika untuk mencapai kebenaran (thesa, anti tesa dan sintesa), bukan bersumber dari para ilmuan yang memang sejak lama bergumul dengan ilmu pengetahuan.

Tetapi lebih banyak bersumber dari media sosial, hasil rekayasa dan pemikiran orang-orang yang tidak punya legitimasi kuat dibidang ilmu pengetahuan. Prinsip “logico, hipotetico dan ferivikasi” sebagai siklus untuk memperoleh kebenaran tidak berlaku lagi.

Tantangan PT

Fenomena dunia di atas adalah sebuah realitas yang sangat anomali, disatu sisi manusia ingin membangun peradaban kemanusiaan dengan mengandalkan kemampuan para ilmuan dengan berbagai keahlian yang dimiliki, disisi lain lahir pula peradaban yang tidak tersturuktur yang seringkali dilahirkan oleh orang-orang populer tapi tidak punya dasar keilmuan yang mempuni.

Peran para ilmuan seolah tergantikan oleh peran anonim yang secara massif dipopulerkan oleh media sosial dan celakanya masyarakat lebih percaya anonim daripada seorang professor dan doktor sekalipun. Inilah yang digambarkan oleh Tom Nichol dalam bukunya berjudul “The Death of Expertise”.

Artinya matinya para pakar dan matinya kebenaran yang sesungguhnya. Tingkat kepercayaan publik pada nara sumber populer seringkali lebih tinggi dari ilmuan yang populis yang memang sejak lama hanya bekerja untuk mencari kebenaran.

Evan Davis (2017) dalam bukunya “Post Truth – Why we Have Reached Peak Bullshit and What We Can Do About it” yang diterbitkan oleh Little Brown and Company. Pasca kebenaran : Mengapa Kita Telah Mencapai Puncak Omong Kosong dan apa yang dapat kita lakukan tentang itu.

Devis dalam buku tersebut nampaknya gelisah memilihat realitas hidup manusia yang tidak bisa lagi membedakan mana Value yang mengandung nilai-nilai kebenaran dan mana fakta (Fact) yang sesungguhnya. Manusia saat ini tidak bisa lagi membedakan Truth,
Post-Truth, and Post-Fact.

Apa yang dikemukakan oleh Tom Nichol dan Evan Davis adalah sesuatu yang miris dan sangat berbahaya, betapa tidak sebab meskipun sesuatu itu salah, akan tetapi apabila dilakukan secara berulang-ulang, apalagi dilakukan oleh seorang tokoh, artis yang punya pengikut dan para opinion lider, pastilah pendapat tersebut cepat diterima dan bahkan mungkin secara sosiologis mudah terinternalisasi kemudian tereksternalisasi di masyarakat.

Perguruan Tinggi (PT) yang mengembang amanah Tridarma Perguruan Tinggi harus ikut serta membendung arus kuat gerakan anti rasionalime ini. Sebab di Perguruan Tinggi berkumpul orang-orang rasional yang hidup matinya hanya bekerja untuk mencari, menemukan dan menebarkan kebenaran,

Karena itulah Perguruan Tinggi harus selalu menjadi “Gate Keeper”, dia harus menjadi penjaga gawang, jangan sampai kebobolan dengan berbagai paham anti rasionalisme. Prinsip “logico, hipotetico dan ferivikasi harus terjaga terus karena hanya dengan itu kebenaran bisa diperoleh, dikembangkan tentu saja untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia.

Penguatan Tridarma PT

Salah satu sumber kebenaran sebagaimana sering kita dapatkan dalam Filsafat Ilmu pengetahuan adalah kebenaran otoritas ilmuan, tentu saja selain kebenaran ilahiah, kebenaran akal sehat atau common sense dan sebagainya.

Ketika ilmuan sudah mengatakan benar, maka itulah kebenaran dan orang-orang rasional menerima pendapat itu.

Selain darma pertama pendidikan dan pengajaran, maka hal yang penting dalam upaya membendung gerakan anti rasionalisme adalah penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Ini penting sebab kelihatannya peran PT terkalahkan oleh pendapat dan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh orang-orang anti sosial yang justru menimbulkan turbulenci kebenaran.

Penelitian harus diperkuat dari hulu hingga ke hilir, jangan penelitian dan hasil-hasilnya tersimpan saja diperpustakaan, menjadi barang rongsokan dan tidak berguna untuk masyarakat.

Para dosen harus banyak melakukan pengabdian pada masyarakat agar tidak terkesan angkuh dan hanya menjadi menara gading, dosen harus menjadi menara api yang bisa menyinari lingkungan sekelilingnya.

Hanya dengan penguatan seperti itu yang bisa membendung gerakan anti rasionalisme yang semakin merasuk dalam kehidupan manusia tanpa orientasi yang jelas. Perguruan Tinggi harus tetap berdiri kokoh dan kuat membela kebenaran, membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Semoga.

9c5e1ac2-841b-4700-b2b6-f109e3da7f97

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed