oleh

Kisah Remaja Tahfiz di Bone Terjebak Pusaran Narkoba

-Daerah-1.498 views

BONE, BERITA-SULSEL.COM – Namanya Muhammad Fajrin AG, remaja usia 19 tahun yang harus menanggung kesedihan ditinggal cerai orangtua sejak masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.

Ibunya yang seorang guru honorer kemudian menikah lagi dengan lelaki lain dan tinggal serumah bersama Fajrin serta 2 saudaranya di sebuah kompleks perumahan di Kabupaten Bone.

Fajrin, alumni sebuah pondok pesantren terkenal di Kabupaten Bone adalah seorang tahfiz yang pernah menghapalkan 17 juz Al-Qur’an. Namun sayang, terjebak pergaulan usai tamat dari pondok pesantren.

Tatapannya nanar ketika ditanya mengapa dia terjebak dalam pusaran barang haram tersebut. Fajrin bercerita tentang teman-teman lamanya yang mengenalkan barang haram itu dan kini mereka masih berada di luar sana menjadi pecandu.

“Waktu tamat sekolah, setahun lalu saya ketemu kembali dengan teman-teman kecil saya. Saya diajak mencoba sabu supaya kuat begadang dan bisa bermain game PUBG sampai jam 1 malam. Saya mulai beli paket kecil, harganya Rp150 ribu dan sebelum tahun baru lalu, saya sangat sering beli sabu” tuturnya.

Menyesal kini tiada guna. Fajrin mengaku sedih karena ibunya harus bolak balik ke kantor polisi setiap hari demi dirinya. Fajrin berjanji usai keluar dari penjara, dia akan menuruti kemauan ibunya untuk melanjutkan hapalan ke sebuah pondok pesantren di Pulau Jawa.

“Saya tidak mau masuk penjara lagi, saya mau ke Jawa lanjut hapalan. Selama disini saya hanya bisa menghapal 9 juz, padahal dulu sampai 17 juz. Kalau keluar dari sini, saya mau tinggal dulu di rumah, baru ke Jawa” lanjut Fajrin.

Fajrin hanyalah 1 dari sekian banyak remaja yang terjerumus dalam lubang hitam narkoba. Kepekaan masyarakat yang masih minim serta kurangnya peran keluarga menjadi salah satu faktor mudahnya remaja terjebak lingkungan yang salah dan bersentuhan dengan barang haram tersebut.

Diakui Fajrin, masih banyak temannya diluar sana yang dengan mudah membeli sabu untuk dikonsumsi bersama. Rumah si penyedia sabu yang berada di tengah kota Beradat, terbuka 24 jam untuk merusak mental dan moral anak bangsa. (eka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed