oleh

Pulihkan Ekonomi, Kemenparekraf   Dorong Pelaku Pariwisata Gelar Festival Budaya

-News-175 views

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong pertumbahan ekonomi melalui sektor pariwisata. salah satu langkah yang dilakukan mendorong pelaku usaha atau event organizer melakukan festival budaya. Pasalnya, salah satu satu penggerak utama ekonomi di daerah adalah pariwisata.

Hal ini disampaikan Koordinator Strategi dan Promosi Event Daerah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Hafiz Agung Rifai dihadapan para jurnalis dalam Cerita Protokol CHSE Event atau Cerpen di The Rinra Hotel, Kota Makassar, Kamis (18/11/2021).

Kata Hafiz CHSE adalah program Kemenparekraf yang berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

CHSE merupakan audit yang dilaksanakan Kemenparekraf untuk memastikan secara objektif penerapan standar protokol kesehatan pada segi kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keramahan lingkungan yang telah dijalankan secara benar dan konsisten sesuai dengan panduan yang ditetapkan.

Kata dia, salah satu potensi ekonomi dari sektor pariwisata adalah event. Selama pandemi, semua event dihentikan. Hal ini memberikan dampak ekonomi yang sangat luar biasa. Bukan hanya pelaku pariwisata.

“Dampak dari pandemi ini tak hanya pelaku pariwisata. Tapi semua masyarakat, khususnya UMKM,” ujarnya.

Tahun ini, kata Hafiz, banyak sekali pengalihan anggaran, termasuk di Kemenparekraf. Nilainya mencapai 70 persen dari total anggaran. Sehingga, banyak agenda atau program yang tak terlaksana.

“Kami berharap, tahun 2022 tak ada lagi pengalihan anggaran, sehingga agenda Kemenparekraf bisa berjalan dengan baik,” terangnya.

Namun, jelas Hafiz, pemerintah tetap memberikan ruang kepala pelaku pariwisata, termasuk industri event dengan memberikan panduan.

“Panduan ini ditujukan kepada semua pihak. Baik penyelenggara maupun masyarakat sebagai penonton, termasuk pengisi acara,” ujarnya.

“Adanya panduan atau pedoman pelaksanaan festival tak hanya mendorong potensi wisata saja, juga UMKM dan sektor lain,” tambahnya.

Setelah ada vaksin, jelas Hafiz, pelaksanaan festival kembali menggeliat. Namun, sebelum pelaksanaan event, harus punya izin,” terangnya.

Sementara itu, Inisiator Toraja Highland Fest, Prana Rama Vidi Suaebo mengatakan, potensi wisata di Sulawesi Selatan sangat banyak. Termasuk di Toraja.

Namun, potensinya masih membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah. “Selama pandemi Covid-19, sektor pariwisata lesu. Semua terpuruk, termasuk para pelaku UMKM.

Walau masa pendemi, jelas Prana, pelaku usaha harus tetap melakukan terobosan agar sektor pariwisata tak mati.

“Kami terus melakukan terobosan untuk mengembangkan pariwisata dan UMKM di Toraja. Termasuk mendorong pertumbuhan UMKM dengan berkoordinasi bersama pemerintah, Polri dan TNI,” ujarnya.

“Pemerintah memberikan respon yang cukup baik kepada pelaku usaha untuk melakukan event atau festival. Namun, tantangan yang paling sulit mengatur jumlah pengunjung yang membludak,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Festival Delapan Indonesia, Sofyan Setiawan menjelaskan, pihaknya belum bisa membuat festival selama pandemi belum berakhir.

“Event terbesar di Makassar adalah F8. Festival ini terakhir dilaksanakan tahun 2019. 2020 hingga 2021 tak ada festival. Semua agenda festival dibatalkan, takutnya ada klaster baru,” ujarnya.

“Kami lebih peduli pada keselamatan dan kesehatan masyarakat. Selama masa pandemi, festival tak dilaksanakan,” jelasnya.

Setelah pelaksanaan vaksin menyeluruh, tak ada lagi Covid, jelas Wawan, sapaan akrab Sofyan Setiawan, pihaknya akan kembali membuat event dan festival yang meriah.

“Tahun 2022 kami akan gas lagi pelaksanaan event. Termasuk F8 yang telah menjadi agenda tahun di Kota Makassar,” paparnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed