
LUTIM, BERITA-SULSEL.COM- Tak dipungkiri Dua kali musibah longsor yang terjadi di Kabupaten Luwu Timur, masing-masing Longsor Desa Maliwowo dan Desa Ussu dalam kurun waktu sebulan, meninggalkan sebuah kesamaan atau kemiripan. Bukan jumlah korban jiwa, bukan juga jumlah rumah yang tertimbun dan bukan pula jumlah kerugian para korban. Namun kedua bukit dimana lokasi terjadinya longsor terdapat kebun Merica.
Tentunya hal ini mengundang tanya bagi banyak orang, apakah kedua longsor itu karena keberadaan kebun merica?. Tentunya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tak lepas dari izin yang Tuhan Maha Kuasa. Namun apa yang melatar belakangi peristiwa tersebut, tentunya manusia pun tahu.
Namun yang jelasnya, gundulnya hutan di beberapa wilayah di Luwu Timur ini salah satu sebabnya, karena pembukaan lahan baru untuk perkebunan merica. Yah, memang untuk membuka sebuah lahan kebun merica, warga terlebih dahulu wajib menggunduli hutan. Kenapa begitu?.
Sebab untuk menanam merica, diperlukan sebatang kayu atau sejenisnya yang ditancapkan pada tanah yang telah bersih atau gundul. Dimana nantinya, merica akan tumbuh dan berkembang di sebatang kayu tersebut.
Kayu yang ditancapkan tadi, sama sekali tidak tumbuh sehingga tidak ada akar untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya sebatang kayu tersebut. Selain itu, untuk menyerap air dan garam-garam mineral (zat-zat hara) dari dalam tanah seperti fungsi akar pada tumbuhan. Nah, jika demikian peluang untuk terjadinya longsor sangat besar.
“Memang ada kebun merica di puncak bukit longsoran. Nah apakah itu penyebabnya, kita masih cari tahu, “ujar Bupati Luwu Timur, Thorig Husler beberapa waktu lalu menanggapi musibah longsor di Desa Ussu.
Kalau memang benar kebun mericalah yang menjadi penyebab terjadinya musibah longsor di Luwu Timur, maka sudah selayaknya masyarakat sadar akan pentingnya alam bagi umat manusia dan sudah saatnya berhenti menggunduli hutan.
Dan yang terpenting, semoga musibah di Bumi Batara Guru tersebut sudah tidak ada lagi kedepannya.(rifal/zadly)
Comment