Andi Mustaman : Mari Kembalikan Kejayaan Maritim Kota Makassar

HA Mustaman Bertemu Nelayan Makassar di Kawasan Paotere
HA Mustaman Bertemu Nelayan Makassar di Kawasan Paotere

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Sejak tahun 1360, pelabuhan Makassar telah terhubung dalam jaringan niaga global, bersama Kota Pelabuhan lain seperti Siang (Bunguro/Pangkajane), Bacukiki (Pare-Pare), Suppa, dan Nepo (Balanipa Mandar).

Makassar pada akhir abad ke-19 dalam jaringan global telah berfungsi sebagai post terdepan bagi perdagangan Singapura. Lalu-lintas antara kawasan Indonesia Timur dan Singapura sangat maju. Ketika itu, barang-barang ekspor dari Makassar diangkut ke Singapura, diolah dan juga dikirim ke Cina, India, Jepang, bahkan Eropa dan Amerika.

Catatan ini membuktikan Kota Makassar pernah berjaya dalam dunia kemaritiman. Untuk itu, Tokoh Pendidikan Kota Makassar, Andi Mustaman berharap semua stakeholder khususnya pemerintah untuk konsisten mengembalikan kejayaan maritim Kota Makassar. Apalagi pemerintah Jokowi-JK telah menyampaikan poros maritim merupakan agenda utama pembangunan.

Kata dia, dengan mengembalikan kejayaan maritim dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat pesisisr atau nelayan yang mayoritas dikenal selama ini masuk kategori miskin.

Padahal, Menurut Andi Mustaman Kota Makassar memiliki potensi maritim yang sangat besar. Dimana luas wilayah yang mencapai 175,79 km2 terdapat garis pantai 52,8 km yang terdiri dari garis pantai daerah pesisir sepanjang 36,1 Km, serta garis pantai pulau-pulau dan gusung sepanjang 16,7 km.

“Kota Makassar memiliki pulau-pulau kecil yang terletak dalam paparan terumbu karang Kepulauan Spermonde yang berada di Selat Makassar. Makassar memiliki 11 buah pulau kecil, 9 diantaranya berpenghuni,” ujar Andi Mustaman di Makassar, Rabu (2/11/2016).

Kata dia, Kota Makassar memiliki luas laut serta potensi 3 ekosistem utama laut yakni Terumbu Karang, Lamun dan Mangrove yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk lokasi pemanfaatan perikanan maupun wisata. Selain itu, Kota Daeng memiliki pelabuhan besar yang dapat menujung sektor jasa transportasi laut.

“Pengelolahan sumberdaya alam khsusunya yang ada di laut belum terlalu maksimal. Dimana pemerintah saat ini masih fokus pada pembangunan daratan. Harunya sudah melirik sektor maritim,” jelas Ketua Yayasan Bhakti Bumi Persada yang membina STIE Wira Bhakti Makassar ini.

Ketidak seriusan ini dibuktikan dengan kondisi ekosistem pesisir dan laut yang semakin terdegradasi. Khususnya kondisi terumbu karang Kota Makassar tergolong rusak berat atau jelek dengan rata-rata tutupan karang hidup 19,64 persen. Sama halnya dengan kondisi Mangrove. (*)


Comment