JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM – Kepala Badan POM RI, Taruna bersama Menteri Perdagangan RI, Zulkifli Hasan memberi apresiasi kepada Satgas Pengawasan Barang Tertentu yang diberlakukan Tata Niaga Impor kerjasama solid antara badan POM membasmi produk illegal yang masuk ke Indonesia.
Kerjasama ini melibatkan banyak pihak termasuk Dirjen Bea Cukai, Kementerian Keuangan, TNI Polri, Kejaksaan Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Perindustrian, Badan intelejen negara, Badan Keamanan Laut dan Kadin hingga peran media baik cetak dan elektronik.
“Bersama masyarakat, kita menjadi kekuatan besar dalam membasmi produk illegal. Produk ini bukan merugikan negara. Hal terpenting masyarakat Indonesia terancam dari bahaya produk kosmetik impor yang belum dapat izin edar dari BPOM,” ujar Taruna, Senin, 30 September 2024 .
Kata Taruna, kosmetik adalah salah satu dari tujuh jenis barang yang diawasi Satgas. Hal ini sesuai dengan tugas dan fungsi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pengawasan dilakukan BPOM sejak sebelum produk beredar (pre market) hingga selama produk berada diperedaran. Kosmetik adalah produk yang paling banyak didaftarkan di BPOM.
Lebih dari 50% Nomor Izin Edar (NIE) produk yang disetujui BPOM dalam 5 tahun terakhir merupakan NIE produk kosmetik. Dari seluruh NIE kosmetik, proporsi NIE kosmetik lokal adalah ±70%. Sisanya merupakan NIE kosmetik impor.
BPOM bersama lintas sektor anggota Satgas telah melaksanakan operasi penindakan dan intensifikasi pengawasan terhadap produk kosmetik impor ilegal dalam kurun waktu Juni hingga September 2024.
Produk kosmetik impor ilegal berhasil diamankan dari berbagai wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Papua. Produk ilegal ini merupakan produk kosmetik Tanpa Izin Edar (TIE) dan mengandung bahan dilarang.
Sebagian besar produk berasal dari negara Tiongkok (China), Filipina, Thailand, dan Malaysia. Merek produk ilegal tersebut antara lain Lameila, Brilliant, dan Balle Metta.Temuan produk kosmetik impor ilegal yang diamankan sejumlah 970 item atau 415.035 pieces dengan nilai keekonomian mencapai Rp11.446.000.000.
“Kita menginginkan produk kosmetik lokal selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan berdaya saing di pasar global,” jelasnya. (*)
Comment