BPOM – Menkomdigi Sepakat Basmi Mafia Obat Makanan Berbahaya

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid bertemu dengan Kelapa BPOM RI Taruna Ikrar, Selasa, (7/1/2025).

JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid bertemu dengan Kelapa BPOM RI Taruna Ikrar. Pertemuan itu membahas sejumlah isu strategis mulai dari penjualan online obat makanan berbahaya dan ilegal hingga kejahatan di ruang digital.

“Kemkomdigi memiliki sejumlah program prioritas, diantaranya penjualan online bahan obat, makanan ilegal serta berbahaya. Kedua, ruang digital yang ramah. Tidak marak dengan kejahatan digital,” kata Meutya di gedung Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa, (7/1/2025).

Kepala Badan POM RI, Taruna Ikrar mengatakan, kunjungan ini untuk bisa sinergi kedua Lembaga. Khususnya soal konten penjualan dan promosi di media daring.

Penjualan disini sangat murah, karena berbasis user generated content. Sebab, konten di media daring dapat dibuat dan diunggah pengguna secara gratis dan sukarela.

Hal tersebut, kata Taruna, mencerminkan bagian dari kebebasan ekspresi yang telah diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Namun, sering kali pengguna menyalahgunakan kebebasan tersebut untuk melakukan aktivitas jual beli tanpa memperhatikan kaidah yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Program/fitur ‘live’ dalam PPMSE maupun PSE turut menjadi celah dalam memberikan tayangan promosi yang tidak sesuai dengan kaidah yang ada. Tak hanya itu, beberapa PSE juga menjadi sarana promosi dan jual-beli.

Sejatinya, sarana PSE, terutama pada media sosial, hanya sebagai sarana berekspresi dan komunikasi semata.

Adanya celah tersebut, kemudian diambil oleh oknum-oknum penjual produk obat dan makanan ilegal dan tidak memenuhi ketentuan untuk melakukan penjualan barang-barang tersebut. Baik menggunakan PPMSE hingga menggunakan PSE untuk mempromosikan obat dan makanan ilegal dan juga tidak memenuhi ketentuan tersebut.

“Kondisi demikian dapat membahayakan kesehatan masyarakat, karena produk obat dan makanan ilegal dan tidak memenuhi ketentuan yang beredar secara bebas melalui daring tersebut, tidak dapat dipastikan keamanan, mutu, khasiat, zat gizi maupun kualitas produk tersebut,” jelas Taruna

Taruna menyampaikan pentingnya konektivitas dan pemerataan. Pemerataan akses perlu disadari hari ini. Mau tidak mau, masalah komunikasi, perkembangan teknologi sudah sangat demikian pesat. Kita menyadari bahwa negara ini sangat luas.

“Masih ada beberapa daerah yang memang perlu kita perkuat dari sisi pemanfaatan teknologi, jaringan-jaringan untuk pelayanan BPOM ke masyarakat,” ujarnya. (*)


Comment