Warga Bontosomba, Tompo Bulu, Maros Butuh sekolah Layak Belajar

Warga Bontosomba, Tompo Bulu, Maros Butuh sekolah Layak Belajar

BERITA-SULSEL.COM – Warga dusun Cindakko, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan membutuhkan sekolah yang layak digunakan anak mereka untuk belajar.

Dusun Cindako merupakan salah satu wilayah terpencil di wilayah Sulawesi Selatan sangat minim dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur lainnya.

Pukul 06.00 pagi, anak-anak Cindakko harus berjalan kaki sepanjang 5 hingga 7 kilometer dengan cara mendaki dan menyusuri jalanan berbatu serta berlumpur. Jalanan dengan daratan yang menanjak dan hutan dilalui anak-anak pelosok menuju tempat belajar mereka di sekolah darurat yang dibangun secara swadaya masyarakat Cindakko.

Warga Bontosomba, Tompo Bulu, Maros Butuh sekolah Layak Belajar

Azis, salah satu guru sekolah darurat yang tinggal di desa sebelah harus menempuh 3 jam menuju sekolah setiap hari. Kata dia, angka buta huruf orang tua siswa di Cindakko masih sangat tinggi mencapai angka 96 persen. Sebagian besar dari mereka tidak faham dengan bahasa Indonesia.

“Sekolah darurat ini terbuat dari kayu dengan akses menuju ke sekolah tersebut masih sangat memprihatinkan, tidak ada yang bisa menjamin kapan sekolah ini bisa bertahan. Bagi kami semangat tinggi dan keceriaan mereka merupakan kebahagiaan yang tiada tara, senyum mereka adalah senyum kita,”ujarnya.

Tapi, kata Azis, keinginan mereka untuk menyekolahkan anaknya sangat besar. Walau harus berjalan kaki berkilo meter mereka sanggupi untuk mengantarkan anak mereka ke sekolah darurat.

“Harapan yang sangat besar dari warga untuk bisa melihat sebuah sekolah yang layak untuk anak-anaknya. Sekolah yang nyaman dan aman yang bisa digunakan anak pelosok menuntut ilmu,” jelasnya belum lama ini.

Aziz berharap, warga dipelosok ini diberikan haknya sebagai anak Indonesia untuk menuntut ilmu pendidikan. “Cita-cita mereka sangat mulia. Diusia belia seperti itu mereka sudah berfikir untuk bisa merubah kampung halamannya dengan bersekolah. Sebagian besar dari mereka bercita-cita menjadi seorang guru, alasannya pun sangat membuat tertegun ketika mereka mengatakan bahwa saya ingin menjadi guru karena ingin melihat Kampung saya menjadi pintar,” ujarnya.

Azis menambahkan, sebagian besar anak-anak pelosok di cindakko harus hidup secara mandiri. Namun, terkadang orang tua mereka harus ke hutan mencari madu selama 2 hingga 3 hari. Bahkan salah satu siswa yang umurnya 10 tahun harus mengurus adiknya yang umurnya 7 tahun setiap pagi, dan berangkat kesekolah bersama-sama.

“Sebagain besar masyarakat Cindakko berprofesi sebagai pencari madu, pembuat gula merah, dan petani musiman,” ujarnya. (ris)


Comment