
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Kepala BAN PT Kemenristek Prof Mansyur Ramli mengaku sangat terharu dan meneteskan air mata saat membaca buku “Bukan Karena Aku Seorang Ibu,” karya Fadiah Mahmud. Mantan Rektor UMI Makassar ini mengaku tidak mampu menahan rasa harunya saat mengetahui isi buku tersebut.
“Buku ini mengulang kenangan dan memories saya 18 tahun lalu, bagaimana perjuangan teman-teman dalam advokasi dan penegakan LPA Sulsel,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar dan diskusi buku yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Sulsel Selasa (2/5/2017).
Dia menegaskan bahwa buku tersebut sebuah arsip dan dokumentasi dalam aksi advokasi perlindungan anak disulsel. Bahkan buku ini menjadi saksi sejarah bahwa banyak kebijakan dimulai dari LPA sulsel yang menjadi kebijakan nasioanal.
“Salahsatu isu dari Makassar yang dijadikan isu nasioanl yakni isu akte kelahiran gratis dan polisi peduli anak,” ujarnya.
Buku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan Fadiah Mahmud diluncurkan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Selasa 2 Mei 2017.
Fadiah dalam sambutannya mengatakan, peluncuran buku yang ia tulis sekitar tiga bulan itu bisa berjalan berkat bantuan sejumlah pihak. Sederet nama disebutkan Fadiah sebagai orang-orang yang turut mendukung penerbitan bukunya.
“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada semua orang-orang yang selalu mendukung saya dalam penulisan ini yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu,” ungkap Fadiah.
Peluncuran buku tersebut kata Fadiah dirangkaikan dengan bedah buku yang menghadirkan empat pembicara. Kepala BAN-PT Kemendikbud RI Prof Mansyur Ramli, Anggota DPRD Sulsel Selle KS Dalle dan Sri Rahmi, dan Sekretaris Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Sulsel Suciawati Saptamargani.
Buku tersebut berisi tentang advokasi perlindungan anak. Ada alasan tersendiri mengapa Fadiah begitu tertarik untuk menulis buku dengan 291 halaman itu.
Kata Fadiah, ia ingin meletakkan sejarah bahwa gerakan perlindungan anak di Indonesia berawal dari Sulawesi Selatan. Selain itu, menurutnya LPA sebagai lembaga payung tempat berhimpunnya orang-orang yang memiliki konsistensi.
“LPA juga memiliki komitmen dan dedikasi tinggi dan akam terus menerus mendorong perbaikan kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan terbaik anak,” jelas Fadiah.
Selanjutnya, ia juga ingin mengenalkan kepada pembaca bahwa ia bangga menjadi bagian dari lahirnya gerakan perlindungan anak di Indonesia, khususnya Sulsel.
Ia berharap, karya yag lahir dari tangannya ini bia diterima oleh masyarakat. Terlebih buku ini merefleksikan berbagai dampak gerakan perlindungan anak yang telah dirintis LPA Sulsel yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.
Comment