MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Dua Mahasiwa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (FIP UNM) terpaksa harus menderita dengan mahalnya biaya pendidikan di kampusnya.
Mahalnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi alasan kedua Mahasiswa tersebut harus berupaya semaksimal mungkin mencari dana tambahan demi menggapai cita-citanya.
Kedua mahasiswa tersebut yakni Agi Astuti, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2017 dan Nuraeni, Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PBB) angkatan 2016.
Agi sendiri memiliki Jumlah nominal UKT yang cukup tinggi yaitu, 5 juta Rupiah. Ironisnya, ia hanya hidup dari hasil Pensiunan ayahnya yang sudah meninggal. Agi pun sehari-hari rela menjadi karyawan di tempat Loundry disela-sela padatnya jam kuliah.
Dilain sisi, Nuraeni yang bernasib tak jauh beda dengan Agi, malah hendak menjual handphonenya untuk membayar UKT nya disemester ini dikarenakan orangtuanya yang sudah tidak sanggup membayar.
Melihat persoalan ini, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIP UNM bersama Front Mahasiswa Nasonal (FMN) berinisiatif melakukan penggalangan dana di sekitaran kampus demi membantu kawan mereka.
Bermodalkan jualan pisang molen coklat yang dibanderol harga Rp. 5000 dan modal Rp. 2000, sejumlah mahasiswa tersebut menyusuri beberapa titik keramaian Kampus UNM sambil menawarkan dagangan mereka.
Presiden BEM FIP UNM, Ramly Ely membenarkan ada 2 mahasiswa FIP UNM yang tidak bisa membayar UKT dan sedang mengurus Penurunan UKT di kampus.
“Ada dua Mahasiswa dari FIP yang kami kawal untuk penurunan UKT, ya tapi dipersulit, dipimpong-pimpong” ujarnya dalam rilis yang diterima berita-sulsel.com, Jumat (26/1/2018).
Ia mengungkapkan dari pengalangan dana yang dilakukan sudah menghasilkan kurang lebih Rp. 1.000.000. Uang tersebut kemudian akan diberikan kepada kedua mahasiswa tersebut.
“Alhamdulillah dana yang terkumpul kurang lebih Rp. 1.000.000, setidaknya ini bisa bantu-bantu untuk membayar UKTnya, karena untuk membayar saja dia menjual Hp dan menggadai Laptopnya sama hasil gaji kerjanya dari laundry” ungkap mahasiswa PPB ini.
Ia pun berharap pihak birokrasi UNM membantu dalam menurunkan UKT kedua mahasiswa tersebut, ia menuturkan keprihatinannya jika mereka harus cuti akademik hanya karena tidak bisa membayar UKT.
“Harapan saya, birokrasi UNM jangan mempersulit mahasiswanya untuk mau menurunkan UKTnya, saya merasa kasihan jika ada mahasiswa yang mau cuti akademik hanya karena tidak mampu membayar UKTnya, karena pendidikan itu penting” tuturnya.(*)
Penulis: Taufiq Quridatullah
Comment