oleh

Jangan Ngaku Hebat, Sebelum Hadirkan Lawan di Pilkada Gowa

-Opini-552 views

 

By: Syamsul B Majjaga

..entahlah, apakah ini masih masuk akal atau justru menghina akal sehat dan memperpanjang barisan pembodohan

Barangkali inilah keajaiban kompetisi terlangka yang pernah ada dimuka publisitas Pemilu Kabupaten Gowa. Sekaligus menjadi peristiwa paling fenosakramenal (maksudnya fenomenal sekaligus sakral) bagi sejarah Pilkada Gowa.

Adnan Puritcha sebagai kandidat dengan tingkat electoral tertinggi. Tidak membuat PKS dan Gerindra sebagai partai politik dengan jumlah kursi besar meliriknya. Bahkan sepertinya, terlihat partai Gerindra dan PKS sedang menjenakakan politik dengan memperlihatkan penanda menarik dari akhir cerita Pemilukada Gowa, Adnan tanpa penantang.

Lalu peristiwa seperti apakah yang dikatakan fenosakramenal dari situasi tersebut?. Adakah itu tentang rencana menjegal Adnan?. Ataukah itu tentang kisah lain seperti Rocky Gerung dengan segala parodi nalar nalurinya di pusaran kekuasaan?. Tidak, tidak, tidak. Saya percaya ini bukan tentang itu. Bahkan jauh sekali dari itu semua.

Hal ini juga bukan tentang episode akhir dari pembingkaian cerita tanpa tanding. Juga bukan tentang skenario Adnan tidak melirik Gerindra dan PKS untuk menyisakan cerita heroisme di detik akhir penetapannya sebagai yang terpilih untuk periode kedua.

Adnan memang tak tertandingi di Pilkada Gowa. Bahkan dua partai dengan jumlah kursi memenuhi prasyarat usungan pun gagal menggoda calon panantang. Kutipan imajinernya kurang lebih begitu.

Tentang Deklarasi Gerindra dan Selebrasi PKS?

Tidak deklarasi langsung. Tapi jika boleh berasumsi, Partai Gerindra dengan posisi 7 kursi di parlemen dan PKS 3 kursi, diatas kertas sangat memungkinkan untuk menghadirkan Kandidat.

Hal yang cukup rasional untuk mengkonfirmasi itu. Ingat, Kabupaten Sidrap, juga Pemilukada Kabupaten Sinjai di tahun 2018. Saya sarankan. Jejak itu, bisa jadi jalan bagi Adnan untuk mengolah ulang desain atau harapan untuk berjalan mulus tanpa penantang di Pemilukada 2020.

Percayalah, di Pilkada Sidrap cerita yang hampir sama dengan posisi Adnan saat ini. Jangan salah, cacatan Gerindra sebagai Partai pemenang Pemilu Presiden di Kabupaten Gowa dengan perolehan 264. 626 suara itu menjadi gema opini tersendiri dengan bobot narasi yang bisa jadi tidak akan menguntungkan Adnan. Tapi, semoga itu tidak.

Pemilukada Kabupaten Gowa 2020, bagi sebagian publik yang kurang tahu, sudah bisa dipastikan akan berpandangan tidak akan seseru seperti di Pemilukada Gowa sebelumnya. Belum lagi, sampai saat ini tidak ada satupun hasil survey yang mengulas data faktual dari sisi berbeda. Semua soal trend popularitas dan elektabitity.

Sementara hal lain seperti indeks kesenjangan ekonomi desa – kota, rasio pengangguran, sampai buta aksara dipandang sebagai sesuatu yang kurang menarik di mata publik. Intinya. Sajiannya adalah mau menang atau kalah.

Padahal, jika Haris menduga alam pikirkan Partai Gerindra dan PKS, Pemilukada Gowa bukan soal memang – kalah. Bukan soal orang. Jika dugaanku benar, bisa jadi spekulasi itu akan menjadi kosakata alternatif yang dipersiapkan kedua partai ini.

Jika itu betul, percayalah Pilkada Gowa dipastikan jauh akan lebih menarik dari kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan. Pemilukada Gowa 2020 adalah tentang gambar kehidupan, fakta dan publisitas.

Eskalasi opsinya dipastikan akan menarik. Jika betul memilih tulisan diatas. Gambaran oerang opini dalam imajinasi saya. Narasinya kita – kira akan seperti ini. Kalau memilih calon ini kandidat dari koalisi Gerindra – PKS.

“Mereka akan fokus untuk membawa kembali roh politik dengan sedikit berendah hati untuk belajar mendengar. Bukan sebagai partai dan calon yang hanya terus ingin didengarkan dan dipercaya. Kolasisi ini akan menyodorkan resep, ber-Pilkada itu, setiap orang mustinya kembali untuk berani mengikat komitmen pada hal-hal prinsip yang mendasar”.

Sementara disisi lain, koalisi besar partai dengan argumentasi pengantar yang menempatkan kandidat usungannya sebagai pasangan yang ideal untuk dipilih setiap warga Gowa. Masyarakat Gowa harus menjadi warga rasional dengan peringkat kesadaran yang berurutan dari elektability dan popularity.

Posisi Partai Gerindra dan PKS saat ini di Kabupaten Gowa sepertinya tidak akan membuat elit politik menikmati dan melewati jalan Pemilukada 2020 dengan enjoy. Mereka akan memaksa barisan partai koalisi untuk merangkai kembali sentilan-sentilan kocaknya:l. Putra terbaik yang diasumsikan membangun jalan raya pengetahuan diatasnya atau celoteh tentang anak muda yang perkasa.

Percayalah, kita akan sangat sulit sekali mendapatkan diksi dan kelucuan narasi semacam itu di Pilkada Gowa 2020 nanti. Aku yakin itu. Sebab, determinasi opini dan pertarungan rantai wacana di Pilkada Gowa akan disajikan secara bersama dalam waktu yang sama.

Memilih sesuatu dengan dasar imbalan yang menyenangkan dengan jaminan Pemilukada sajalah gema kebahagiaan untuk semua rumah tangga. Atau memilih latah dengan turut menikmati kemenangan tanpa pernah menikmati hal lain selain popularitas dan elektabilitas, dimana tujuannya adalah tokoh tanpa tanding. Sungguh fenosakramenal dan serius ini gambaran Pemilukada yang menyenangkan.

Sekali lagi, tulisan ini hanyalah, soal apakah ini masih masuk akal atau justru menghina akal sehat dan memperpanjang barisan pembodohan yang berefek fantastis. Tapi apapun itu, yang pasti jika gambaran ini benar, semua kehilangan kegembiraan.

Dimana, pada fase itu terjadi, setiap tindakan bisa mengarahkan sebuah kebiasaan yang bisa memberi makna. Kita lihat setelah ini. Jauh dari kesukaan memberi pertimbangan tapi tak bisa memahami sekitar. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed