Jembatan Wisata Mangrove Untia Roboh: Ketika Pesona Terancam Abai

Jembatan Wisata Mangrove Untia Roboh: Ketika Pesona Terancam Abai

Oleh: Sri Wahyu Nengsi, Puteri Bumi Sulsel 2025

BERITA-SULSEL.COM – Pada 14 September 2025, saya berkesempatan mengunjungi kawasan wisata mangrove Untia di Makassar. Sebagai Puteri Bumi, saya datang dengan harapan untuk melihat langsung potensi alam yang begitu besar.

Saya menemukan hutan mangrove yang sejuk dan asri—sebuah benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi, sekaligus ruang edukasi lingkungan yang luar biasa. Saya membayangkan Untia bisa menjadi permata ekowisata di Sulawesi Selatan, sebuah tempat di mana alam, pendidikan, dan ekonomi lokal bisa bersatu.

Namun, di tengah pesonanya, saya menyaksikan sebuah ironi yang memilukan.

Jembatan kayu yang seharusnya menjadi jalur utama bagi para pengunjung kini telah roboh. Papan-papan kayu berserakan, dan upaya perbaikan seadanya dengan bambu justru menciptakan jalur yang ekstrem dan membahayakan.

Saya sendiri merasakan betapa sulit dan tidak amannya melangkah di atasnya. Keadaan ini bukan hanya sekadar kerusakan fisik, tetapi cerminan dari terabaikannya sebuah aset berharga.

Masyarakat setempat bercerita bahwa dahulu tempat ini ramai dikunjungi, tetapi kini sepi. Kerusakan infrastruktur telah memutus akses wisatawan, yang secara langsung berdampak pada pedagang kecil yang kehilangan pembeli.

Lebih dari itu, jika dibiarkan, kerusakan ini akan mengancam keberlanjutan ekosistem itu sendiri. Hutan mangrove yang tidak terurus berisiko kehilangan daya tariknya, bahkan rusak.

Ini adalah panggilan darurat

Pemerintah daerah dan desa harus segera mengalokasikan dana untuk memperbaiki jembatan dengan material yang aman dan tahan lama. Perbaikan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal mengembalikan kepercayaan publik dan menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi di Untia.

Dinas terkait, komunitas, dan pihak swasta juga harus bersinergi. Untia memiliki potensi yang lebih besar dari sekadar jembatan. Ini bisa menjadi pusat edukasi konservasi, program penanaman mangrove, hingga pemberdayaan ekonomi lokal melalui UMKM.

Para pemuda dan media memiliki peran krusial. Kita bisa menjadi corong untuk menyuarakan pentingnya pelestarian ekowisata Untia. Kampanye kesadaran publik harus digalakkan agar tekanan untuk perbaikan datang dari berbagai arah.

Jembatan yang roboh di Untia adalah simbol dari sebuah potensi yang sedang terancam. Mari kita jadikan ini sebagai momentum untuk bertindak.

Jembatan itu harus dibangun kembali—bukan hanya dengan kayu dan besi, tetapi dengan kolaborasi, kepedulian, dan visi untuk masa depan ekowisata yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan.


Comment