MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Sehari pasca resmi dilantik, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. apt. Aktsar Roskiana Ahmad, Ph.D., langsung tancap gas menjalankan pengabdian masyarakat. Ia hadir sebagai narasumber utama dalam workshop teknologi industri yang digelar di Makassar, Selasa (20/1/2026).
Kegiatan bertajuk “Teknologi Penyulingan Minyak Pala dan Standar Mutu Produk Turunan untuk Daya Saing UMKM” ini berlangsung di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim (BBSPJIHPMM), Jalan Prof. Dr. H. Abdurrahman Basalamah, Makassar.
Sebanyak 30 pelaku UMKM pengolah pala asal Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, hadir untuk menyerap ilmu terkait peningkatan nilai ekonomi rempah unggulan mereka.
Dorong Hilirisasi dan Teknologi Tepat Guna
Dalam paparannya, Prof. Aktsar menekankan pentingnya hilirisasi produk melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Menurutnya, pala (Myristica fragrans Houtt.) bukan sekadar rempah biasa, melainkan komoditas strategis dengan nilai ekonomi tinggi di pasar global.
“Peningkatan permintaan dunia terhadap minyak atsiri berkualitas mengharuskan pelaku UMKM kita menguasai teknologi penyulingan yang tepat. Tanpa standar mutu yang konsisten, produk lokal akan sulit bersaing di industri farmasi dan kosmetik internasional,” ujar Prof. Aktsar.
Ia juga menjelaskan perbedaan krusial yang sering disalahpahami masyarakat antara minyak pala (essential oil) yang diperoleh melalui distilasi, dengan lemak pala (nutmeg butter) yang didapat melalui ekstraksi atau pengepresan. Pemahaman teknis ini dinilai penting agar UMKM bisa menghasilkan produk turunan yang sesuai standar industri.
Pentingnya Kolaborasi Multipihak
Lebih lanjut, Prof. Aktsar menggarisbawahi bahwa kemajuan ekonomi daerah tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Ia mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang melibatkan kolaborasi lintas sektor.
“Harus ada sinergi antara pelaku UMKM, pemerintah daerah, sektor swasta, dan perguruan tinggi. Kolaborasi inilah yang akan menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas,” tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu membekali para peserta dari Teluk Wondama dengan keterampilan teknis agar pala Papua tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dalam bentuk produk turunan bernilai tambah tinggi.
Comment