BPOM Gandeng JICA Jepang, Perkuat Pengawasan dan Investasi Obat Berbasis Plasma Darah

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyambut delegasi JICA Jepang Azuma Yuichiro untuk kerja sama produk obat berbasis plasma

JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM – Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) memperkuat langkah strategis demi mewujudkan kemandirian sektor kesehatan nasional. Kali ini, BPOM menjajaki kolaborasi dengan delegasi ahli dari Jepang untuk memperkuat ekosistem pengawasan Produk Obat Berasal dari Plasma Darah (Plasma Derived Medicinal Products/PDMPs).

Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, menyambut langsung kunjungan delegasi tersebut di Jakarta. Rombongan utusan dari Negeri Sakura ini terdiri atas perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW), serta Japanese Red Cross Society.

Kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari dukungan JICA untuk mengevaluasi sistem produk fraksionasi darah di Indonesia. Langkah ini sekaligus menindaklanjuti permintaan resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Taruna Ikrar memberikan apresiasi yang tinggi kepada pimpinan delegasi Jepang, Azuma Yuichiro, yang menjabat sebagai Deputy Director, Blood and Blood Products Division MHLW Jepang.

“Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada JICA, MHLW, dan Japanese Red Cross Society. Jepang telah berhasil membangun sistem yang menjamin keamanan, mutu, dan ketersediaan produk bagi masyarakat. Pengalaman berharga tersebut menjadi referensi penting bagi Indonesia,” ujar Taruna Ikrar.

Taruna menjelaskan bahwa produk obat berbasis plasma memegang peran vital dalam pelayanan kesehatan modern. Pasien sangat membutuhkan produk turunan ini untuk terapi kritis seperti albumin, imunoglobulin, dan terapi spesifik lainnya. Oleh karena itu, Indonesia harus membangun ekosistem PDMP nasional secara komprehensif melalui sinergi kuat antara regulator, industri farmasi, dan lembaga donor darah.

Selain fokus pada pemenuhan kebutuhan domestik, BPOM juga memastikan seluruh rantai proses berjalan ketat. Pengawasan melekat mulai dari pengumpulan plasma, manufaktur, distribusi, hingga pemantauan pasca-edar di pasar. Hal ini bertujuan agar seluruh produk yang beredar di masyarakat memenuhi standar keamanan tertinggi.

Pertemuan bilateral ini juga membuka peluang besar bagi penjajakan kerja sama investasi kesehatan di Indonesia. Pada sesi teknis, kedua pihak mendiskusikan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), sistem ketertelusuran (traceability), hingga manajemen rantai pasok yang aman.

Melalui momentum ini, Taruna berharap kolaborasi internasional dengan Jepang dapat melahirkan regulasi yang adaptif. Dengan demikian, kapasitas regulator domestik akan meningkat pesat dan masyarakat bisa mengakses produk terapi berbasis plasma yang aman, bermutu, dan berkelanjutan secara lebih luas.


Comment