Pendidikan dan Uang Panai

Oleh: Arsyad
Pemerhati pendidikan

Pendidikan ibarat navigasi dalam rangka menuntun manusia menuju pencapaian yang telah ditargetkan. Pendidikan memberi ruang bagi siapapun yang ingin melangkah pada jalan damai dan saling meringankan. Keringanan tersebut muncul karena adanya kesadaran, rasa peduli, mengerti, dan lain sebagainya.

Sebagaimana telah dicontohkan dalam proses belajar mengajar. Seorang peserta didik biasanya meminta izin kepada gurunya ketika hendak melakukan sesuatu yang dibutuhkan.

Ketika tidak minta izin dan melakukan kesalahan, maka akan berdampak pada posisi atau status namanya di mata seorang guru. Sebagaimana peserta didik tersebut senantiasa menjadi awasan dan kontrol gurunya.

Restu guru sangat disakralkan bagi langkah seorang peserta didik. Kalau seorang guru memberikan izin sebagai bentuk perhatiannya terhadap peserta didik, berarti itu adalah tanda bahwa murid telah dapat restu dari walinya.

Restu tersebut tidak boleh seenaknya dan harus bernilai edukasi karena ini menyangkut nama baik sekolah sebagai instrumen pengejawantahan dunia pendidikan dalam menghantarkan masyarakat sekolah menuju masayarakat terdidik.

Khas itulah yang musti dijaga baik oleh guru terhadap peserta didiknya, pun dari peserta didik terhadap gurunya.

Dalam memberi restu atau kesempatan, seorang guru terkadang menuruti peserta didiknya akan tetapi menuruti bukan berarti memberikan kebebasan penuh melainkan juga mengontrol agar tidak terjadi hal yg tdk diinginkan.

Seperti dalam proses belajar mengajar, biasanya peserta didik yang ingin minta izin akan diberikan izin oleh gurunya.

Izin tersebut diberikan karena guru memahami dan mengerti keadaan prserta didiknya dengan tentunya sesuai dengan kontrol pendidik tersebut. Sifat kepedulian guru tersebut menjadi ciri bahwa dia pengasih bagi peserta didiknya dan tidak memberatkan.

Sebagai contoh, seorang peserta didik yang tidak memiliki biaya untuk membeli buku mata pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Guru yang baik bukan mematahkan semangat peserta didik dengan memaksa dan mengharuskan beli buku dengan beberapa ancaman seperti nilai rendah dan lain sebagainya.

Guru yang baik senantiasa memberi solusi yang dapat ditempuh sesuai kemampuan peserta didiknya seperti menulis, meminjamkan, dan lain sebagainya. Karakter pendidik seperti inilah yang patut diberi apresiasi oleh pemerintah dan masyarakat.

Sama halnya dengan restu yang hendak diberikan terhadap anak yang mau sekolah namun tidak memiliki biaya yang cukup. Biasanya diberikan solusi atau keringanan oleh pihak pemerintah atau sekolah dengan melaksanakan beberapa program bantuan.

Lagi-lagi, bukan memberatkan tapi memberi solusi dan dapat membangun kepercayaan diri peserta didik hingga tidak lagi terkungkung dalam wacana “orang miskin tidak bisa sekolah”.

Hal seperti inilah yang akan menjadi penyelamat bagi generasi bangsa dan meningkatkan prestasi generasi.

Nilai-nilai solutif tersebut dapat diaplikasikan oleh masyarakat luas, utamanya dalam mengatasi ketakutan sebagian pemuda hari ini. Beberapa bulan terakhir, pemuda telah dihantui oleh film yang berjudul “Uang Panai'”.

Uang panai’ ternyata bukanlah menjadi film fiktif belaka namun ternyata selaras dengan konteks dan kultur yang mulai terbangun dalam tatanan masyarakat bugis Sulawesi selatan. Uang panai’ seakan menjadi hal prioritas dalam menunaikan ibadah bagi para mubalig.

Lumayan mengejutkan di tengah para pemuda yang mendengar bahwa uang panai’ telah mencapai ratusan bahkan milyaran rupiah. Lantas bagaimana nasib pemuda yang tidak memiliki keyakinan yang cukup untuk mendapat biaya sebesar itu.

Bukankah mereka akan kesulitan dalam menghadapi tantangan hidup yang demikian rumitnya. Tentu saja, jika bukan karena semangat dan kegugihan yang baik maka bisa saja terjadi keputus-asaan bagi mereka.

Nilai-nilai pendidikan sangatlah cocok dalam memberi solusi untuk problem ini. Pendidikan yang tadinya memberikan nilai pengasih, maka seorang calon mertua yang baik dan pengasih akan mengerti dan menjadi pemberi solusi terhadap kesulitan calon menantunya.

Begitupun dengan nilai kemurahan dan kasih sayang serta kepeduliannya, maka seorang calon mertua akan peduli terhadap calon menantunya.

Nilai pendidikan yang mengajarkan tentang kesadaran dan kesederhanaan akan membuat calon menantu dan calon mertua untuk menempatkan “nikah sebagai ibadah” sebagai prioritas serta tidak lagi terkungkung dalam keistimewaan uang panaik.

Maka pada hakekatnya, masyarakat terdidik dan sadar akan faedah pendidikan senantiasa membangun keharmonisan dalam keluarganya dan selanjutnya menjadi contoh bagi masyarakat lainnya.

Pendidikan memang layaknya menjadi soluai terhadap sensitifnya arus modern. Pendidikan akan menjadi solusi atas keterkungkungan para pemuda dan masyarakat secara lua. Peran utama pemuda adalah mengelamatkan golongannya sendiri dari jejaring struktur sosial yang mencekal dan memberatkan.

Tumbuhnya pendidikan di tengah masyarakat, maka mereka tidak akan terpengaruh lagi dengan gengsi-gengsian bila uang panai’nya rendah.

Justru, uang panai’ yang rendah merupakan sebuah prestasi atas kemenangan masyarakat dalam melawan Gengsi dan konstruk modernisme yang kurang produktif.


Comment