Mahasiswa di Makassar Cenderung Melakukan Seks Beresiko

iskusi Ilmiah yang dilaksanakan di Alula Prof Syukur Abdullah lantai 3 Kampus Fisip Unhas, Kamis (01/12/2016), selain presentase dari Civic Institute juga ada penanggap yaitu Sosiolog Unhas Dr. Arsyad M.Si, Sekretaris KNPI Kota Makassar Irwan Ade Saputra dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Makassar Azis Lasabbe.
iskusi Ilmiah yang dilaksanakan di Alula Prof Syukur Abdullah lantai 3 Kampus Fisip Unhas, Kamis (01/12/2016), selain presentase dari Civic Institute juga ada penanggap yaitu Sosiolog Unhas Dr. Arsyad M.Si, Sekretaris KNPI Kota Makassar Irwan Ade Saputra dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Makassar Azis Lasabbe.

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Civic Institute bersama dengan Keluarga Mahasiswa Sosiologi Fisip Universitas Hasanuddin telah melakukan penelitian mengenai perilaku seks mahasiswa Kota Makassar. Penelitian ini merupakan inisiatif dari kedua lembaga untuk melakukan kajian mengenai perilaku seks mahasiswa.

Penelitian yang dilakukan sejak Maret 2016 menggunakan metode angket terhadap 400 orang mahasiswa di PTN dan PTS se Kota Makassar. Dalam penelitian ini ditentukan beberapa variabel yang menggambarkan perilaku seks mahasiswa di Kota Makassar, yaitu pengetahuan, sikap, tindakan seks, pengalaman dan faktor pendorong.

Hasil penelitian ini kemudian disampaikan pada diskusi ilmiah dalam rengka memperingati hari AIDS sedunia pada 1 Desember 2016 di Fisip Unhas. Diskusi ilmiah tersebut bertajuk ‘Mahasiswa dan Seks’ juga hadir sebagai panelis Komisioner Komisi Penanggulangan AIDS kota Makassar, KNPI Kota Makassar dan Sosiolog Universitas Hasanuddin.

Dari data yang diperoleh tim peneliti secara rata-rata responden cukup memiliki pengetahuan seksual baik bentuk dan resiko yang ditimbulkan. Sebanyak 78,75 persen responden menjawab salah pada pernyataan penyakit menular seksual tidak dapat tertular lewat hubungan seks. Begitu pula pada pernyataan bahwa ‘seks adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan didasari oleh keinginan (libido) dengan tujuan mencari kenikmatan’ sebanyak 77, 25 persen menjawab benar.

Pada indikator tindakan terungkap, sebanyak 132 orang mengaku pernah melakukan hubungan seksual, 92 orang diantaranya pernah melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi dan 48 diantaranya pernah melakukan aborsi. Atau jika ada 10 orang mahasiswa yang pernah melakukan hubungan seksual, 7 diantaranya pernah melakukan seks tanpa alat kontrasepsi dan 4 diantaranya pernah melakukan aborsi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa di Kota Makassar cenderung melakukan seks beresiko.

Resiko yang dimaksudkan adalah baik penyakit yang diakibatkan hubungan seks maupun kehamilan yang tidak diharapkan. Perilaku seksual dikelompokkan menjadi perilaku seksual beresiko dan perilaku seksual tidak beresiko. Perilaku seksual beresiko yakni jika responden pernah berciuman bibir pada tingkatan awal dan berhubungan seks pada tingkatan lanjutan.

Sehingga penelitian ini mengungkapkan bahwa persentase seks beresiko mencapai 33,95 persen. Responden laki-laki lebih cenderung melakukan seks beresiko dengan persentasi mencapai 23,1 persen dibanding perempuan yaitu 10,85 persen.

Dari data yang diperoleh tim peneliti, dikemukakan pula motif atau faktor yang menjadi pendorong melakukan hubungan seks. Bahwa keinginan melakukan seks karena dorongan ingin tahu sebanyak 11,25 persen (45) responden menjawab sangat setuju setuju, 20,75 persen (83) menjawab setuju, 21,75 persen (87) responden menjawab netral, 25 persen (100) menjawab tidak setuju dan sisanya 21,25 persen (85) menjawab sangat tidak setuju.

Motif ini lah yang paling banyak responden menjawab setuju atau sangat setuju. Ada pun moti lain yaitu ingin mendapat kenikmatan, ingin membuktikan rasa sayang, ketidak tahuan resiko yang ditimbulkan, dipaksa pasangan, dapat diterima dalam pergaulan, diberi uang atau imbalan lainnya dan karena dirangsang atau dalam pengaruh obat atau zat lainnya.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa rata-rata mahasiswa Makassar mulai melakukan hubungan seks sejak SMA dan perguruan tinggi. Sebesar 16,75 persen menjawab melakukan hubungan seks sejak SMA. Sedangkan melakukan hubungan seks sejak di perguruan tinggi sebanyak 13,55 persen dan 2,75 persen melakukannya sejak SMP.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi perintis kajian mengenai perilaku seks yang lebih mendalam. Mengingat perilaku seks tidak bisa lagi dianggap tabu dan telah menjadi ancaman nyata bagi generasi bangsa, bahkan generasi yang terpelajar sekalipun.

Dalam diskusi Ilmiah yang dilaksanakan di Alula Prof Syukur Abdullah lantai 3 Kampus Fisip Unhas, Kamis (01/12/2016), selain presentase dari Civic Institute juga ada penanggap yaitu Sosiolog Unhas Dr. Arsyad M.Si, Sekretaris KNPI Kota Makassar Irwan Ade Saputra dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Makassar Azis Lasabbe. (rilis)

sumber : Hasil Penelitian “Perilaku Seks Mahasiswa Kota Makassar”


Comment