Layanan Plus Dg. Nasir, Tukang Parkir Balaikota Pemkot Makassar

Muhammad Ilham
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Layanan Plus Dg. Nasir, Tukang Parkir Balaikota Pemkot Makassar

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Layanan tukang parkir seringkali dikeluhkan masyarakat di Kota Makassar dan beberapa kota lainya. Namun pelayanan berbeda diterapkan Dg. Nasir (56) dengan tujuan membuat pemilik kendaraan merasa puas, ia menunjukkan dedikasi yang tinggi sebagai tukang parkir.

Tukang parkir, profesi yang hanya dipandang rendah sebagian orang. Namun tidak banyak orang mengira bahwa menjadi seorang tukang parkir adalah pekerjaan yang mulia. Itulah profesi yang sampai saat ini dijalani Dg. Nasir.

Ayah dari lima orang anak ini sudah 2 tahun menjadi tukang parkir di sebelah barat kantor Balaikota Makassar. Pekerjaan kecil yang sehari-hari dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar tidak membuat Dg. Nasir berkecil hati.

Lelaki yang tinggal di Maccini Sombala, Makassar, ini berangkat dari rumah jam 06:00 Wita meninggalkan seorang istri dan lima orang anak. Dengan membawa peralatan untuk tugas mulianya ini dan bekal untuk disantap nanti pada waktu makan siang, Dg. Nasir meninggalkan rumah dengan menunggangi kuda besinya menuju Jalan Balaikota.

Dg. Nasir memberikan pelayanan lebih kepada setiap orang yang datang untuk parkir di tempatnya. Dengan membungkus helm setiap konsumennya dengan kantongkresek, pria berkulit gelap ini mengaku hal itu merupakan bentuk pelayanan kepada setiap pengendara.

“Saya bungkus helm orang yang parkir disini, supaya kalau hujan tidak basah dan saat panas tidak juga membuat helm rusak,” ujarnya.

Sama dengan tukang parkir lainya Dg. Nasir diberi imbalan Rp2.000, meski ada pelayanan lebih yang diberikan kepada konsumennya. Tetapi beliau tidak pernah mengeluhkan hal itu, karna ada prinsip yang beliau pegang.

“Pekerjaan yang dijalani dengan ikhlas, maka akan menjadi berkah,”ujarnya.

Itulah prinsip yang beliau pegang sehingga tetap semangat dalam menjalankan pekerjaanya ini.

Tidak adanya tuntutan bayaran dan keikhlasan dari Dg. Nasir, tak ayal membuat beberapa pejabat di kantor walikota ini mempercayai beliau dengan menitipkan kunci motornya di saat mereka kerja.

“Kunci motornya pegawai di dalam saya ji na kasih pegang, biasa kalau pulang ki na kasih tong ka kodong nasi atau tambahan uang,” ujarnya.

Dg. Nasir bercerita tentang komisi yang ia peroleh dari profesi yang ditekuninya ini. Jikalau rame ia bisa meraup pendapatan sebesar Rp130 ribu, namun jika sepi, yang didapatkan sekurangnya Rp90 ribu.

“Itu pun belum kita bayar ke pihak PD. Parkir sebanyak Rp60 ribu, jadi total pendapatan saya kalau rame itu Rp70 ribu, dan kalau lagi sepi cuma Rp30 ribu,” ucapnya sambil tersenyum.

Tentu hasil tersebut hanya untuk biaya makannya per-hari. Walau dengan pendapatan yang pas-pasan itu, Dg. Nasir tetap menerimanya dengan penuh rasa syukur. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, Dg. Nasir berusaha dengan baik mengatur pengeluaran yang diperlukan.

Pada saat Adzan berkumandang beliau tetap menjalankan ibadahnya dengan gantian shift bersama temannya. Ia tidak ingin meninggalkan ibadahnya walaupun ada kerjaan dan tanggung jawabnya, untuk bekal di Akhirat kelak.

Dg. Nasir menganggap, walau dirinya miskin harta di dunia, ia tidak ingin miskin di akhirat kelak. Ia selalu ingin menjalani hari demi hari menjadi semakin lebih baik. Di usianya yang ke 56 tahun, Ia semakin sadar bahwa umur semakin habis dimakan waktu. “Kapan lagi banyak-banyak melakukan ibadah, kalau bukan sekarang? Karena mati seseorang hanya Allah yang menentukan,” tutupnya.


Comment