Taruna Ikrar Raih Penghargaan Kepemimpinan Visioner 2026 dari GP Farmasi

Prof. Taruna Ikrar

JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, resmi menerima penghargaan bergengsi “Anugerah Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan 2026”.

Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia memberikan apresiasi tersebut atas dedikasi Taruna dalam mentransformasi sistem pengawasan kesehatan nasional di tengah gejolak global.

Penyerahan penghargaan berlangsung setelah forum diskusi strategis yang membahas tantangan kenaikan harga obat akibat tekanan geopolitik dunia. GP Farmasi menilai Taruna Ikrar berhasil membawa perubahan signifikan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara ketegasan regulasi dan keberlangsungan industri.

Menjaga Stabilitas di Tengah Krisis Global

Ketua Umum GP Farmasi Indonesia, F. Tirto Koesnadi, memuji langkah progresif Kepala BPOM. Menurutnya, kepemimpinan Taruna sangat krusial saat rantai pasok bahan baku farmasi terganggu oleh konflik internasional, seperti ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

“Prof. Taruna Ikrar menunjukkan wajah baru BPOM yang tegas namun sangat mendukung inovasi. Kepemimpinan visioner ini menjadi kunci agar masyarakat tetap mendapatkan akses obat yang terjangkau,” ujar Tirto.

Selanjutnya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh jajaran BPOM. Ia berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan berbasis sains dan mempercepat digitalisasi sistem perizinan.

Mendorong Kemandirian Farmasi Nasional

Selain merespons isu harga, Taruna menyoroti pentingnya hilirisasi bahan baku obat dalam negeri. Langkah ini bertujuan agar industri farmasi Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan impor yang rentan terhadap fluktuasi logistik internasional.

“Kita harus memperkuat ketahanan nasional. BPOM tidak hanya menjaga keamanan produk, tetapi juga memastikan produk Indonesia mampu bersaing di pasar global,” tegas Taruna.

Saat ini, BPOM telah mencatat prestasi gemilang dengan meraih status WHO Listed Authority (WLA). Status ini menyejajarkan Indonesia dengan otoritas pengawas kelas dunia seperti US FDA. Pencapaian tersebut sekaligus menjadi “paspor” bagi produk farmasi lokal untuk merambah pasar mancanegara secara lebih luas.

Fokus Masa Depan: Indonesia Emas 2045

Melalui kolaborasi erat dengan GP Farmasi Indonesia, BPOM terus mengawal sektor yang memiliki nilai ekonomi hingga ribuan triliun rupiah ini. Transformasi digital dan penguatan rantai pasok menjadi prioritas utama untuk melindungi konsumen sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, sinergi antara regulator dan pelaku usaha akan semakin intensif. Fokus utamanya adalah pengembangan industri berbasis riset demi mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.


Comment