Kiprah Global Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI Terima Penghargaan Profesor di Malaysia

Kiprah Global Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI Terima Penghargaan Profesor di Malaysia

KUALA LUMPUR, BERITA-SULSEL.COM – Dunia internasional kembali mengakui kiprah dan kontribusi besar ilmuwan asal Indonesia di panggung global.

Universitas Teknologi Malaysia (UTM) Space secara resmi menganugerahkan gelar Adjunct Professor kepada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar. Penghargaan akademik tertinggi ini mengukuhkan keahlian mendalamnya dalam bidang Farmakologi “Advanced Cell Gene Therapy”.

Pihak universitas menyematkan gelar bergengsi tersebut karena kontribusi nyata Taruna dalam mengembangkan ilmu biomedis, neurosains, terapi sel, farmakologi, serta kebijakan kesehatan global.

Prosesi penganugerahan yang berlangsung khidmat di Malaysia ini mempertemukan ribuan pasang mata, termasuk sejumlah tokoh nasional, jajaran pimpinan, dan keluarga besar BPOM RI.

Saat menerima penghargaan, Deputi I BPOM RI Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, William Adi Teja beserta istri, mendampingi Taruna Ikrar secara langsung.

Selain itu, Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Afriansyah Noor dan Bupati Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Andi Rudi Latif juga turut menghadiri momen bersejarah tersebut.

Hadir pula Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI Elfi Wardaningsih, Tim Ahli Kepala BPOM RI Andi Armyn, serta Staf Khusus Kepala BPOM RI Bidang Kebijakan Pengawasan Sediaan Farmasi dan Pangan Olahan, Nor Andi Arina Wati Arsyad. Dokter Wachyudi Muchsin selaku Staf Khusus Kepala BPOM RI beserta perwakilan keluarga besar lainnya juga ikut menyaksikan seremoni global ini.

Pemberian gelar Adjunct Professor ini menjadi simbol kuat bahwa komunitas sains internasional menghargai dedikasi ilmuwan Indonesia. Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, BPOM RI kini semakin aktif mendorong integrasi antara riset ilmiah, inovasi bioteknologi, dan penguatan tata kelola pengawasan obat serta pangan.

Selama lebih dari dua dekade, Taruna konsisten memimpin riset lintas disiplin di bidang neurosains, terapi gen, terapi sel, farmakologi, dan kesehatan masyarakat. Salah satu karya monumentalnya meliputi pengembangan metode pemetaan otak (brain mapping) yang membantu para ahli memahami sirkuit saraf serta gangguan neurologis.

Tidak hanya itu, Taruna juga memelopori pengembangan terapi sel modern, termasuk CAR-T Cell Therapy untuk menyembuhkan penyakit kanker dan limfoma. Melalui berbagai publikasi ilmiah dan forum global, ia pun aktif menyuarakan mitigasi ancaman antimicrobial resistance (AMR), sebuah kondisi berbahaya yang sering ia sebut sebagai “pandemi senyap”.

Taruna membangun fondasi karier akademiknya yang cemerlang melalui jalur pendidikan dan riset di berbagai institusi elite dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan Magister Biomedis di Universitas Indonesia, ia meraih gelar doktor di Niigata University Jepang dengan fokus pada penyakit jantung dan kardiologi seluler molekuler.

Selanjutnya, ia memperdalam keahliannya lewat program postdoctoral scholar di University of California Irvine, Amerika Serikat, khusus pada bidang neurofarmakologi dan pemetaan otak. Rekam jejak riset mendalam tersebut akhirnya melahirkan puluhan publikasi internasional dan paten ilmiah berharga.

Selain aktif sebagai regulator, Taruna kerap kali tampil menjadi pembicara utama dalam berbagai forum kesehatan global. Sebagai contoh, pada April 2026 yang lalu, Harvard Medical School mengundang Taruna sebagai dosen tamu untuk mengupas platform vaksin dan tantangan penyakit global.

Kemudian, ia juga menghadiri forum internasional CIRS Core di Kuala Lumpur serta menjadi pembicara utama pada The 9th Global Dairy Industry Conference Asia 2026 di Singapura. Bahkan, organisasi Developing Countries Vaccine Manufacturers Network dan National University of Singapore juga mengundang Taruna untuk membagikan gagasan strategis mengenai kesehatan dunia.

Secara akademis, komunitas global memberikan perhatian yang sangat luas terhadap karya-karya ilmiah miliknya. Taruna saat ini mengantongi lebih dari 1.700 sitasi ilmiah, dengan torehan H-Index Google Scholar 24 serta H-Index Scopus 17. Pencapaian ini membuktikan bahwa dunia sains modern menempatkan Taruna sebagai salah satu ilmuwan yang berpengaruh.

Bagi Taruna pribadi, sains sejati wajib memberikan dampak konkret dan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat luas.

“Sains tidak boleh berhenti di dalam batas laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal. Keberhasilan tertinggi seorang ilmuwan adalah ketika inovasi riset mampu diwujudkan menjadi terapi klinis yang menyelamatkan nyawa manusia serta melahirkan kebijakan publik yang melindungi kesehatan bangsa,” tegas Taruna penuh optimisme.


Comment