
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Kasus kematian ibu dan bayinya akibat human eror atau kesalahan manusia di Kabupaten Pangkep. Dimana bidan yang seharusnya memberikan pertolongan pertama tak ada yang bertugas di puskesmas. Kasus ini mendapatkan perhatian Ketua Yayasan Bhakti Bumi Persada yang membina Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wira Bhakti Makassar, HA Mustaman.
“Kasus seperti ini seharusnya tak terjadi lagi di negeri ini, khususnya di Sulsel. Komitmen pemerintah dalam penangangan soal kesehatan sudah cukup baik. Namun, kasus yang terjadi di Kabupaten Pangkep tak seharusnya terjadi, apa lagi sampai terulang, baik di Pangkep maupun secara umum di Sulsel, khususnya di Kota Makassar,” jelasnya, Rabu (7/9/2016).
Ekonomi, pendidikan dan kesehatan, jelas Andi Mustaman, merupakan program utama pemerintah dalam mewujudkan masyarakat sejahterah. “Saya sangat prihatin dengan kasus kematian ibu yang bernama Sumarni (23) dan bayinya. Pemerintah harus melakukan evaluasi terkait masalah ini, ujarnya.
Sebelumnya, Sumarni, Warga Pulau Satanger, Kecamatan Liukang Tangayya, Kabupaten Pangkep ini sempat mendatangi Puskesmas Tangayya di Desa Pulau Sailus, Kamis siang, 1 September untuk bersalin di Puskesmas.
Namun, bidan serta tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di Puskesmas tersebut, tak berada di tempat. Hal membuat Sumarni tak mendapatkan pertolongan pertama.
Baca Juga
Anies Baswedan Berkunjung ke STIE Wira Bhakti Makassar
Seperti Ini Komitmen HA Mustaman Soal Pendidikan di Makassar
Ilmuan : Akademisi Harus Muncul di Pilkada
Melihat kondisi yang semakin kritis, Edi Sunarno, suami Sumarni memutuskan melarikan istrinya ke Puskesmas Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan menggunakan perahu nelayan yang dipinjamnya walau harus menempuh jarak tempuh dengan waktu enam jam membelah lautan.
Namun, Sumarni dan bayinya tetap tak bisa diselamatkan. Kondisinya sudah sangat kritis, bahkan bayi Sumarni lebih dulu meninggal dalam kandungan akibat terlambat mendapatkan pertolongan. (*)
Comment