MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Matahari terbenam di langit Makassar, memendarkan cahaya keemasan di gedung PT Sulsel Citra Indonesia (SCI), tempat diskusi panjang soal masa depan perkebunan kelapa sawit digelar.
Sebuah mimpi besar bernama Sulawesi Palm Oil Belt (SPOB) membayangi ruangan, bercita-cita menjadikan Sulawesi sebagai raksasa baru di peta minyak sawit Indonesia.
Aerin Nizar, Plt Direktur Pengembangan SCI, berbicara dengan keyakinan tinggi. “Proyek ini adalah warisan dari gagasan Menteri BUMN pada 1998, Tanri Abeng. Saat itu, ia memandang Sulawesi sebagai lahan potensial, bukan hanya Kalimantan dan Sumatera,” ujarnya sambil menatap para hadirin yang duduk tenang.
Di depan mereka terbentang visi besar: membuka satu juta hektare lahan kelapa sawit, sebuah angka yang dapat mengubah wajah ekonomi pulau ini.
Dari ujung utara Sulawesi Utara hingga tenggara di Sulawesi Tenggara, seluruh provinsi akan terlibat, termasuk sebelas kabupaten di Sulawesi Selatan yang diharapkan menjadi inti dari zona sawit ini.
Di Luwu Timur dan Wajo, langkah-langkah awal sudah dirancang, menyiapkan lahan yang sebagian besar tidur selama beberapa dekade, menunggu impian ini menjadi kenyataan.
Namun, di balik ambisi ini, muncul kekhawatiran yang tak terelakkan. Kabid Perkebunan Gorontalo, Hafri Mashur, membawa kabar baik dengan menyebut potensi besar 121 ribu hektare di daerahnya.
“Namun baru 16 ribu yang tertanam,” katanya, menyadari bahwa kecepatan harus dipacu tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan. Sementara itu, Simpra Tajang dari Sulteng mengingatkan bahwa tujuan utama adalah untuk kesejahteraan masyarakat.
“Banyak izin usaha yang terbengkalai. Kalau bisa, lebih baik diserahkan kepada pihak yang lebih siap, seperti SCI,” ujarnya. Nada bicaranya menggantung, menciptakan kontras antara ambisi besar dan realitas yang menghadang.
Di balik megahnya proyek ini, SCI mengklaim SPOB akan memanfaatkan teknologi dan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Varietas sawit baru yang lebih tahan penyakit akan ditanam, bersama dengan praktik bioteknologi yang menjanjikan hasil lebih tinggi.
Namun janji-janji keberlanjutan ini masih harus diuji dalam lanskap Sulawesi yang dikenal dengan bentangan hutan hijaunya.
Bukan hanya penghasilan sawit yang menjadi tujuan SPOB. SCI melihat lebih jauh pada diversifikasi produk; biomassa, biogas, dan teknologi baru diharapkan mampu menyumbang keuntungan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meredam ketergantungan pada minyak sawit mentah semata.
Pada akhirnya, yang tersisa di benak adalah pertanyaan besar: mampukah proyek ambisius ini merangkul kesejahteraan tanpa mengusik keragaman alam dan keseimbangan sosial di Sulawesi? Jika sukses, Sulawesi Palm Oil Belt akan mengukir babak baru dalam sejarah perkebunan Indonesia.
Namun, jika meleset, tak hanya sawit yang tumbang, tapi juga harapan masyarakat yang digantungkan padanya.
Comment