Pedagang dan DPRD Tolak Relokasi Pasar Terong, Minta Jaminan Kesejahteraan

Basdir

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Rencana relokasi pedagang Pasar Terong di Makassar memicu polemik. Pemerintah Kota ingin mengembalikan fungsi jalan di sekitar kanal, namun pedagang dan anggota DPRD menolak karena khawatir relokasi akan mematikan mata pencaharian mereka.

Anggota Komisi B DPRD Makassar, Basdir, menegaskan bahwa relokasi harus menjamin kesejahteraan pedagang, bukan sekadar menggusur.

“Kita tidak mau ada relokasi yang sifatnya membunuh usaha para pedagang,” kata Basdir pada Kamis (10/07).

Menurutnya, pemindahan harus disertai penataan lokasi yang layak dan strategi matang untuk menarik pembeli. Ia juga menuntut pemerintah memastikan keamanan konstruksi dan legalitas lahan relokasi. “Jangan sampai relokasi ini hanya disimpan begitu saja, lalu diabaikan,” ujarnya.

Pedagang Tolak Pindah ke Gedung Usang

Perwakilan pedagang, Zainal, menyatakan keberatan karena pengalaman buruk di masa lalu. Gedung pasar yang sudah berusia 30 tahun dinilai tidak layak dan berbahaya.

“Pernah plafonnya jatuh. Kalau hujan air masuk dari mana-mana. Beton-betonnya sudah banyak yang retak,” ungkap Daeng Masalle, Ketua Asosiasi Persaudaraan Pedagang Pasar Terong.

Para pedagang juga menuntut beberapa syarat sebelum bersedia pindah:

  • Pembenahan pasar secara menyeluruh.
  • Kejelasan soal harga dan kepemilikan los.
  • Penertiban pedagang liar di sepanjang Jalan Sawi.
  • Jaminan bahwa relokasi tidak merugikan pedagang.

Menurut Zainal, mereka sudah dua kali dipindahkan dan selalu merugi. “Kalau pindah lagi untuk keempat kalinya dan tidak ramai pembeli, mohon maaf, kami akan turun kembali,” tegasnya.

Relokasi ini juga dinilai tidak adil jika pedagang liar di Jalan Sawi tidak ditertibkan. “Yang kami pertanyakan ini mau benahi kanal atau menyejahterakan manusia? Buat apa kanal bagus tapi rakyatnya menderita?” kata Zainal.

Pedagang menegaskan bahwa mereka tidak anti terhadap penataan. Sebaliknya, mereka mendukung jika pemerintah menyediakan tempat yang aman, manusiawi, dan menjamin kelangsungan usaha. “Siapa sih yang tidak ingin tertib? Tapi tempatnya harus manusiawi,” tutup Daeng Masalle.


Comment