Pemuda dan Krisis Literasi

Sopian Tamrin S.Pd.,M.Pd
Staf Pengajar Sosiologi UNM dan Dosen Pancasila STIE Wira Bhakti Makassar

Sopian TamrinPerjuangan pemuda patut kita catat menjadi bagian penting dari sejarah kemerdekaan. Ia hadir sebagai pendobrak mandeknya sebuah gerakan.

Secara ideal, masa muda adalah masa yang sangat produktif, tidak hanya pemikiran, namun masa kematangan pribadi. Dimasa ini juga terbangun kepekaan terhadap persoalan yang ada.

Masa muda adalah masa yang paling baik sebagai elemen partisipatif. Masa dimana manusia akan terbentuk jati diri dan prinsip hidup. Akumulasi dari kehidupan memuncak dimasa muda, baik secara pemikiran ataupun kepribadian. Olehnya itu, pemuda adalah masa yang tepat untuk mengemban tanggung jawab yang berat.

Ketika kita ingin melihat hancurnya sebuah negara tidak perlu membakar sekolah dan tempat ibadahnya tapi cukup racuni pemuda dengan pemikiran dan gaya hidup.

Diera keterbukaan informasi generasi muda mestinya selektif memilih segala hal yang berbau baru dan populer. Tidak semua yang konten budaya modernisme ini berimplikasi positif. Olehnya itu, kerangka berpikir menjadi penting dalam memfilter fenomena arus transformasi budaya.

Kerapuhan generasi muda hari ini, tidak pernah terlepas dari lemahnya kerangka berpikir, bahkan di kampus sekalipun perkembangan pemikiran terkesan lamban. Hal ini bisa dilihat pada fenomena melemahnya animo diskusi pengetahuan pada komunitas mahasiswa baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Kerangka berpikir yang benar selalu menjadi solusi setiap zamannya.

Bangunan pemikiran yang baik tentu bisa menjawab pertanyaan dari sebuah masalah setiap zamannya. Untuk itu, menjadi tanggung jawab kita pemuda menjawab problem yang terjadi saat ini.

Kita tidak boleh memandang pemuda sebagai generasi harapan semata melainkan penentu proses berbangsa dan bernegara hari ini. Tidak perlu menunggu waktu karena keterlibatan kita hari ini memberikan sumbangsi yang amat luar biasa. Namun, masalahnya adalah progres pemuda hari ini belum menampakkan dirinya sebagai elemen penentu perubahan.

Pemuda hari ini banyak membawa diri pada pilihan lingkungan yang hedonis dan pragmatis sehingga proses pembetukan karakter tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Reproduksi prilaku ini sebenarnya tidak terlepas dari struktur ruang yang ada saat ini.

Kondisi sosial saat ini seharusnya mampu dibaca sebagai kondisi genting terhadap eksistensi kepemudaan. Sepatutnyalah membangun ruang yang produktif guna mengalihkan keaktivitas positif.

Rekonstruksi pemikiran pemuda harus dibangun segera mungkin, kita tidak bisa melakukan pembiaran sebelum situasinya menjadi semakin parah.

Pemuda perlu didorong pada ruang dialektika pemikiran, jalannya adalah budaya literasi harus kembali menggema.


Comment