Makna Maulid Nabi Muhammad SAW Bagi HA Mustaman

Makna Maulid Nabi Muhammad SAW Bagi HA Mustaman
Makna Maulid Nabi Muhammad SAW Bagi HA Mustaman

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Kehidupan Nabi Muhammad SAW menjadi teladan yang aktual sepanjang zaman sehingga umat Islam harus mengimplementasikan keteladanan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian disampaikan Ketua Yayasa Bhakti Bumi Persada yang membina Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wira Bhakti Makassar, HA Mustaman dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari ini 12 Desember 2016 atau 12 Rabiul Awal 1438 H.

“Bentuk keteladanan dari Muhammad akan terus relevan sepanjang zaman. Untuk itu kami berharap dan secara pribadi harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya di Makassar, Senin (12/12/2016).

Kata dia, peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dapat dijadikan sebagai momentum refleksi dan aktualisasi umat Islam terkait dengan upaya membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam mengimplementasikan karakter, perilaku, dan sifat Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad, ujarnya, banyak mengalami cobaan dan tantangan dalam kehidupannya, akan tetapi Muhammad tetap ikhlas serta konsisten dalam aktivitas dakwah.

Ia mengatakan kelompok masyarakat yang awalnya membenci Muhammad, setelah mengenal lebih dekat berbalik mengagumi dan mencintai, sedangkan mereka yang semula memusuhi Muhammad berbalik menjadi pembela yang militan.

“Hal tersebut karena pada pribadi Muhammad terdapat adanya keikhlasan dan konsistensi, yakni kesatuan antara kata dengan perbuatan,” jelas mantan legislator DPRD Sulsel ini.

Ia mencontohkan tentang keteladanan Muhammad menyangkut nilai keadilan dalam peristiwa renovasi Ka’bah yang hampir selesai. Ketika itu, katanya, terjadi perdebatan terkait dengan siapa yang berhak memasangkan kembali hajar aswad karena semua merasa paling berkah melakukannya.

Kesepakatan waktu itu, katanya, siapa yang paling awal datang ke Ka’bah keesokan harinya, dia yang berhak memasang hajar aswad.

“Menurut kesepakatan itu, Muhammad yang berhak memasang hajar aswad. Muhammad tidak egois. Dengan arif dan bijaksana, Muhammad menggelar sorbannya, hajar aswad diletakkan di atas sorban, kemudian secara bersama-sama mengangkat sorban tersebut. Perdebatan kemudian berakhir dan semua merasa mendapatkan keadilan,” katanya.

Terkait dengan peristiwa itu, katanya, pelajaran yang bisa diambil oleh umat Islam juga menyangkut keteladanan seorang pemimpin.

“Ketika orang memiliki kewenangan menjadi pemimpin, jangan sampai bertindak sewenang-wenang,” tutup HA Mustaman.


Comment