
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Ketua DPRD Makassar sekaligus Dewan Pendidikan Makassar, Farouk M Betta punya pandangan tersendiri soal diberlakukannya Ujian Nasional (UN) buat siswa SD, SMP, SMA/SMK dan sederajat.
Secara umum, kata Farouk, UN dapat dipahami sebagai tolok ukur pencapaian kurikulum pendidikan Indonesia. Namun, hal penting yang perlu dicermati yakni terkait peningkatan kualitas guru.
“Jika catatannya (Presiden Jokowi) peningkatan kualitas kinerja guru itu sangat baik,” ujarnya, di Makassar, Selasa (20/12/2016).
Menurutnya, peningkatan kualitas guru begitu penting. Sebab, guru merupakan instrumen penting dalam pencapaian hasil ujian para siswa.
Makanya, dia berharap, di sisi lain pelaksanaan UN, kompetensi guru mesti dilakukan secara berkesinambungan. “Minimal 2 kali sebulan, bukannya sekali setahun,” ungkapnya.
“Evaluasi guru sendiri sebenarnya sudah dilakukan kemendikbud melalui ujian kompetensi guru (UKG) . Hasilnya untuk Makassar di bawah 50 point,” ujarnya lagi.
Dengan contoh yang diberikan, Farouk menilai, guru memang perlu untuk ditingkatkan kualitasnya selain siswa.
Selain itu, tambah politikus Golkar ini, mata pelajaran yang tidak termasuk dalam UN mesti mendapat perhatian juga dari pemerintah pusat.
“Seharusnya di UASBN-kan dengan memberikan kisi-kisi sesuai kurikulum nasional kepada dinas pendidikan kabupaten/kota untuk SD dan SMP yang nantinya dibuat naskahnya oleh masing masing daerah,” harap plt Ketua Golkar Makassar ini.
Dengan begitu, imbuh Farouk, guru mata pelajaran yang mengajarkan pelajaran non-UN, mendapat apresiasi oleh sekolah dan siswa. “Karena selama ini banyak yang beranggapan hanya mata pelajaran yang di-UN-kan, yang perlu untuk difokuskan,” paparnya.
Comment