ASI dan Susu Formula

Oleh : Hasmi Rahmah
Mahasiswi Kesmas FKM UMI

AIR Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik sekaligus asupan gizi yang luar biasa bagi bayi. Selain sebagai sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi seimbang dan sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi, ASI juga sempurna baik secara kualitas maupun kuantitas.

Sebagai makanan tunggal, ASI akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal hingga usia 6 bulan.

Pemberian makanan selain ASI yang terlalu dini, menjadi indikator rendahnya kualitas kesehatan bayi di Indonesia.

Bayi akan mudah terkena infeksi saluran pencernaan maupun pernafasan, serta dapat meningkatkan kesakitan (morbiditas). Hal ini merupakan salah satu yang mendorong angka kematian bayi di Indonesia cukup tinggi.

Terdapat kebiasaan di masyarakat, bayi yang baru lahir sudah diberikan makanan lain seperti susu formula, madu, atau lainnya.

Pemberian susu formula berdampak buruk jika air untuk campuran susu tidak bersih. Bakteri dapat berkembang biak dengan cepat, dan akan membuat bayi menjadi sakit.

Pembuatan susu formula membutuhkan kehati-hatian dalam penyiapannya, seperti pencucian botol, perebusan air, dan komposisi campuran. Sehingga banyak studi menunjukkan bayi yang diberi susu formula lebih rentan terkena diare, dehidrasi, kekurangan gizi, infeksi, bahkan meninggal.

Sebaliknya, bayi yang diberi ASI berpeluang 25 kali lebih kecil terkena diare, alergi, asma, dan berbagai penyakit kulit.

Pemasaran produk oleh suatu industri tidak akan pernah terlepas dari upaya promosi.

Promosi dalam bentuk iklan berfungsi dalam merangsang perhatian, persepsi, sikap dan perilaku sehingga dapat menarik konsumen untuk menggunakan suatu produk.

ilustrasi

Pada saat media massa berkembang seperti sekarang ini, promosi melalui media massa merupakan kekuatan besar dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Sisi negatif pengaruh promosi terhadap konsumen adalah digunakannya pesan iklan yang bersifat mengelabui (deceptive information).

Sering kita menjumpai iklan yang memberikan informasi kepada konsumen secara tersamar, membingungkan dan bahkan tidak logis. Klaim tersebut terkadang dikesankan ilmiah, tetapi justru akan membingungkan konsumen, terutama bagi masyarakat awam.

Selama ini informasi antara ASI dan susu formula belum seimbang di tengah masyarakat. Masyarakat lebih banyak menerima informasi susu formula daripada ASI, akibatnya masih banyak ibu yang tidak menyusui anaknya dengan benar.

Iklan besar-besaran (massive) akan mempengaruhi persepsi yang keliru tentang susu formula dan ASI. (*)


Comment