BARRU, BERITA-SULSEL.COM – Hamparan sawah di Dusun Lempang, Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, kembali dipenuhi kesibukan para petani. Suara mesin combine harvester memecah suasana pagi ketika bulir-bulir padi yang menguning mulai dipanen, Selasa (19/5/2026). Di balik panen yang berlangsung lancar itu, tersimpan harapan baru tentang masa depan pertanian desa yang lebih beragam dan berkelanjutan.
A. Maskur S.Kep., Ners., M.Kes. bersama Jusman Ali memimpin proses panen di salah satu area persawahan warga. Mesin combine bergerak perlahan menyusuri petak sawah, sementara para petani berdiri di pinggir pematang sambil memperhatikan hasil panen yang masuk ke karung-karung gabah.
Bagi masyarakat Gattareng, musim panen bukan sekadar rutinitas tahunan. Panen menjadi penentu keberlangsungan ekonomi keluarga. Sebab hingga hari ini, sebagian besar warga masih menggantungkan hidup pada hasil padi dan kacang tanah.
Namun di tengah rasa syukur atas hasil panen tahun ini, muncul kesadaran baru bahwa petani perlu memikirkan langkah jangka panjang. Fluktuasi harga gabah, biaya pupuk yang terus naik, hingga perubahan cuaca membuat sebagian petani mulai mencari alternatif penghasilan lain yang lebih menjanjikan.
Karena itu, di sela aktivitas panen, A. Maskur mengajak warga untuk mulai mengembangkan tanaman kopi sebagai sumber pendapatan tambahan.
“Alhamdulillah hasil panen tahun ini cukup memuaskan. Tapi kita juga harus pikirkan jangka panjang. Saya ajak warga untuk mulai berkebun kopi biar ada tambahan pendapatan selain padi dan kacang tanah,” ujar Maskur saat ditemui di lokasi panen.
Ajakan itu bukan sekadar wacana. Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga Dusun Lempang mulai mencoba menanam kopi di lahan kering dan area perbukitan. Meski masih terbatas, perkembangan tanaman kopi perlahan menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Maskur menilai kondisi geografis Pujananting cukup mendukung untuk pengembangan kopi. Kontur wilayah yang berbukit, udara yang relatif sejuk, serta lahan perkebunan yang masih luas dianggap memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sentra kopi rakyat.
Selain itu, kopi dinilai mampu memberi nilai ekonomi jangka panjang bagi petani. Berbeda dengan padi yang bergantung pada musim tanam tertentu, kopi dapat menjadi investasi pertanian yang hasilnya terus berkembang apabila dirawat dengan baik.
Di sisi lain, kemajuan teknologi pertanian juga mulai mengubah pola kerja petani di desa. Penggunaan mesin combine harvester saat panen kali ini menjadi salah satu contohnya. Mesin tersebut membantu petani mempercepat proses panen sekaligus menekan biaya tenaga kerja.
Jusman Ali mengatakan kehadiran combine harvester membuat pekerjaan petani jauh lebih efisien dibandingkan metode manual yang sebelumnya digunakan.
“Dulu panen manual bisa tiga sampai empat hari, sekarang sehari selesai,” katanya singkat.
Efisiensi itu memberi keuntungan besar bagi petani karena mereka dapat mengurangi risiko gabah rusak akibat hujan maupun keterlambatan panen. Selain itu, waktu yang lebih singkat membuat petani bisa segera menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
Meski demikian, para petani di Gattareng masih menghadapi berbagai tantangan. Kenaikan harga pupuk dan biaya produksi tetap menjadi persoalan utama. Karena itu, diversifikasi tanaman dianggap sebagai langkah penting agar pendapatan petani tidak hanya bertumpu pada satu komoditas.
Upaya tersebut juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperluas sektor ekonomi desa berbasis pertanian. Kecamatan Pujananting sendiri masih memiliki lahan kering dan area perkebunan yang cukup luas, namun sebagian belum dimanfaatkan secara maksimal.
Warga berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memberikan pendampingan teknis bagi petani yang mulai tertarik mengembangkan kopi. Mereka membutuhkan pelatihan mulai dari pemilihan bibit, teknik budidaya, hingga pemasaran hasil panen agar usaha tersebut benar-benar berkembang.
Di Dusun Lempang, semangat perubahan itu kini mulai terasa. Panen padi tetap menjadi kebanggaan utama warga, tetapi di saat yang sama, kopi perlahan hadir sebagai simbol harapan baru.
Para petani percaya pertanian tidak boleh berhenti pada kebiasaan lama. Mereka ingin terus bertahan di tengah perubahan zaman dengan mencari peluang baru yang mampu menjaga ekonomi keluarga tetap hidup.
Saat matahari mulai meninggi dan mesin combine berhenti bekerja, para petani di pematang sawah masih berbincang tentang musim tanam berikutnya. Di antara hamparan padi yang telah dipanen, terselip optimisme bahwa masa depan pertanian Gattareng tidak hanya bertumpu pada sawah, tetapi juga pada kebun-kebun kopi yang mulai tumbuh di perbukitan desa.
Comment