Laporan: Nur Fadhillah dan Nurul Khalisa
Mahasiswa KPI FDK UINAM

BERITA-SULSEL.COM – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Alauddin Makassar yang satu ini, Dr. Nur Syamsiah, M.Pd.I, adalah seorang figur yang berasal dari latar belakang pergerakan dan organisasi.
Nur Syamsiah lahir di Bantaeng, 21 Juli 1965, anak ke-3 dari 8 bersaudara, buah hati dari pasangan Drs. M Yunus Tekeng dan Siti Aisyah.
Orang tuanya, Yunus Tekang seorang pergerakan dan aktifis partai politik. Yunus Tekeng tokoh Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
Dia kemudian menjadi salah seorang penandatangan fusi PPP Sulsel di tahun 1972 saat fusi partai diberlakukan rezim OrdeBru,
Nur Syamsiah menempuh pendidikan SD DDI Ujung Pandang, SMP dan SMA di Pesantren Putri IMMIM Pangkep.
Kepada media di kampusnya Samata Gowa, Senin (23/10/2017) menegaskan, setamat SLTA lanjut S1 di IAIN Alauddin Makassar, jurusan Tadris Inggris. S2 di kampus yang sama dengan jurusan Pendidikan Islam/Komunikasi Islam. Serta S3 juga dikampus yang sama jurusan Pendidikan Islam.
Sejak dulu dia aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal. Di organisasi internal pernah menjabat sebagai sekertaris Pramuka, Wakil Ketua III Senat di Fakultas Tarbiyah UINAM, Pjs Ketua Senat selama 2 bulan.
Di organisasi esternal pernah menjabat sebagai POHATI (Pos HMI Wati) tahun 1987, setelah itu jabat sebagai Ketua Badan Koordinasi Indonesia Timur (BANKOTI). Dia juga menjabat asesor guru agama UIN dan UIT dan menjadi fasilitator gender Sulsel dan pernah dilatih SP3 Kanada selama 4 tahun, katanya.
Kini diberi amaah jadi Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Tugasnya demikian sehingg dia lebih dekat mahasiswa melakukan dialog dan komunikasi di kampus.
Di tengah kesibukannya sebagai wanita karir, beliau tetap bisa bertanggung jawab terhadap keluarganya.
“Kecanggihan teknologi membantu untuk berkomunikasi dengan anak dan suami. Selain menjabat sebagai wakil dekan dan dosen beliau juga menjabat sebagai ketua yayasan salah satu sekolah di Jeneponto,” ungkapnya.
“Kita harus pandai mengatur waktu, minimal memakai komunikasi secara komunitatif agar keduanya berjalan dengan lancar dan baik,” ujarnya.
Berbicara mengenai waktu luang saat kerja mungkin hampir tidak ada waktu lowong karena, kalaupun tidak ada pelayanan untuk mahasiswa FDK beliau bisa memanfaatkan waktu mengisi data-data agar FDK menjadi sukses lagi kedepan, katanya.
Adapaun karya buku ataupun jurnal yang pernah di tulis, di antaranya: Ulama Sulawesi Selatan: Biografi Pendidikan dan Dakwah, Kendala-kendala Dakwah.
Pasang Surut Pendidikan Islam di Indonesia, Prinsip-prinsip Mengajar Bahasa Inggris, Peran Wanita dalam Pembentukan Keluarga Sakinah.
Dia selalu memegang prinsip hidup yaitu sekali berlayar pantang untuk kembali. Artinya dia sangat memegang teguh amanah yang diembannya.
“Ayah saya mengatakan kita harus profesional ketika diberi amanah karena ketika mati kitalah yang harus bertanggung jawab terhadap amanah itu”, ujarnya.
Beliau sering diundang sebagai pembicara seminar-seminar terlebih yang berkaitan dengan wanita dan gender. Beliau selalu melakukan hal positif selama dia mampu walau itu diluar batas kemampuannya. (*)
Comment