BERITA-SULSEL.COM – Tim Kemanusiaan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) menggelarTrauma Healing di SD Muhammadiyah 2 Kota Palu, Jumat (26/10/2018)
Tim yang beranggotakan 10 orang dipimpin langsung Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKM UMI, Dr. Andi Surahman Batara, S.KM., M.Kes. Nampak anak-anak SD ini penuh semangat bermain bersama mahasiswa FKM UMI.
Sebelumnya, gempa dengan kekuatan 7,7 Skala Richter (SR) mengguncang kawasan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Gempa ini menimbulkan tsunami yang menerjang Palu.
Berikut Videonya
Saat gempa terjadi situasi panik yang mencekam meninggalkan bekas trauma di hati dan pikiran banyak orang termasuk anak-anak. Di tengah situasi mencekam, penting bagi anak-anak dan orang dewasa untuk mendapat pelayanan pemulihan trauma atau trauma healing.
Andi Surahman Batara mengatakan, kehadiran pihaknya di Kota Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah bukan hanya memberikan bantuan kepada korban, tapi juga menghibur masyarakat, khusus anak-anak untuk menghilangkan trauma di hati dan pikirannya.
Kata dia, gempa membuat anak-anak harus berada di pengungsian, anak diajak bermain dalam kelompok. Metode teraplay atau play theraphy mengajak anak bermain, menikmati situasi walau tidak senyaman biasanya.
“Bermain dapat mengalihkan fokus anak dari situasi yang mencekam sekaligus membuat mental anak menerima situasi yang dihadapi sekarang,” ujarnya.
Sebelumnya, psikolog anak dan keluarga, Ratih Zulhaqqi, trauma healing bertujuan untuk mengantisipasi post-traumatic syndrome disorder (PTSD). PTSD adalah gangguan stres pascatrauma.
Trauma healing untuk anak, kata Ratih, cenderung agak sulit sebab anak seringkali sulit bercerita perihal kecemasannya seperti orang dewasa. Ia berkata, bermain menjadi metode trauma healing yang tepat buat anak.
“(Kalau bermain), mereka enggak merasa sedang diobati, enggak merasakan situasi yang mencekam. Dan yang mendampingi tidak boleh selalu mengungkit cerita (tentang gempa),” katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 2.113 orang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Selain itu BNPB juga mencatat ada 4.612 orang yang mengalami luka berat.
Data tersebut diperbaharui BNPB Sabtu (20/10/2018). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam penjelasannya mengungkapkan, 2.113 korban meninggal tersebut terbanyak berasal dari Kota Palu.
“Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga,” kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya.
Dari 2.113 orang korban meninggal dunia, sudah termasuk 1 orang warga Korea Selatan yang meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa Kota Palu. Selain itu, ada 223.751 orang mengungsi di 122 titik.
Comment