MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Andi Makmur Burhanuddin, melontarkan pujian atas kesuksesan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) dalam menyelenggarakan Festival Teater Cerita Rakyat Sulsel dan Pameran Benda Pusaka 2026. Perhelatan yang berlangsung pada 8–10 Mei 2026 ini menuai apresiasi karena dinilai efektif menjaga identitas daerah di era digital.
Menurut Andi Makmur, festival ini memiliki fungsi strategis yang melampaui sekadar pertunjukan seni tahunan. Ia memandang kegiatan tersebut sebagai benteng pertahanan budaya dalam merawat ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan.
“Festival seperti ini sangat penting. Selain menghadirkan hiburan, acara ini menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Kita harus terus menjaga dan mewariskan cerita rakyat serta benda pusaka sebagai identitas bangsa,” tegas Andi Makmur saat menghadiri pembukaan festival di Makassar, Jumat (8/5/2026).
Apresiasi untuk Kepemimpinan DKSS
Secara khusus, legislator Makassar ini mengapresiasi kinerja Ketua DKSS, Dr. Arifin Manggau. Ia menilai Arifin berhasil menciptakan kolaborasi yang inklusif antara seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga generasi milenial.
“Saya sangat menghargai upaya Pak Arifin Manggau dan seluruh jajaran DKSS. Mereka mampu menghadirkan festival yang hidup secara artistik sekaligus memiliki visi kebudayaan yang kuat,” tambahnya.
Menghidupkan Tradisi Lisan
Andi Makmur menjelaskan bahwa mengangkat cerita rakyat ke panggung teater merupakan langkah revitalisasi yang sangat relevan. Hal ini karena tradisi lisan seringkali rentan hilang jika tidak mendapatkan dokumentasi dan produksi ulang yang kreatif.
Oleh karena itu, ia percaya bahwa visualisasi teater akan memudahkan generasi muda dalam mengenali akar budayanya. “Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bagian penting dari pembangunan karakter masyarakat kita,” jelasnya.
Dorong Dukungan Pemerintah
Melihat antusiasme komunitas yang terlibat, Andi Makmur kemudian mendorong pemerintah agar memperkuat dukungan terhadap ruang kebudayaan. Ia menekankan bahwa dukungan tersebut sebaiknya hadir dalam bentuk kebijakan daerah yang konkret.
“Pemerintah tidak boleh memposisikan kebudayaan hanya sebagai kegiatan seremonial. Kita butuh keberlanjutan melalui regulasi, pembinaan komunitas, serta penyediaan ruang ekspresi yang luas,” tuturnya.
Sebagai penutup, ia memuji kelengkapan acara yang menyertakan workshop dan penerbitan buku. Baginya, langkah membukukan dan mendiskusikan cerita rakyat adalah upaya nyata dalam membangun memori kebudayaan untuk masa depan.
Festival Teater Cerita Rakyat Sulsel 2026 sendiri menampilkan aksi memukau dari enam kelompok teater daerah. Selain itu, puluhan komunitas pelestari pusaka nusantara turut memeriahkan pameran benda sejarah tersebut. (#)
Comment