Perubahan Iklim Sebabkan Dunia Terancam Krisis Pangan, Termasuk Indonesia

Maximo Torero. Foto : Ist

BALI, BERITA-SULSEL.COM – Lembaga pangan dunia melalui Chief Economics Food and Agriculture Organization (FAO), Maximo Torero, mengatakan saat ini dunia tengah menghadapi 2 masalah besar, yakni akses pangan (food access) dan ketersediaan pangan (food availability).

“Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan besar yang sangat luar biasa. Tahun ini kita mengalami masalah yang disebut “akses pengan” dan penyebab terjadinya kondisi ini adalah harga pangan yang kian mahal,” kata Maximo melalui diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), Senin (14/11/22).


Maximo menjelaskan, masalah akses pangan disebabkan oleh harga pangan yang kian mahal imbas dari kebijakan lockdown di sejumlah tempat di seluruh dunia. Akibatnya, harga pangan melonjak dan masyarakat sulit memperolehnya.

“Mengapa kenaikan harga pangan setelah pandemi covid-19 disebabkan oleh penutupan akses dalam menekan laju penyebaran covid-19. Tapi juga karena perubahaan iklim,” paparnya.

Jadi kenaikan tertinggi harga pangan sepanjang sejarah terjadi di bulan maret. Memang sempat turun tapi tetap tinggi.

“Artinya, masyarakat tidak punya banyak sumber pangan dan tidak akan bisa membeli makanan. Oleh karena itu, kita sebut ini sebagai masalah akses pangan,” bebernya.

Lebih lanjut, Maximo menuturkan, alasan utama melonjaknya harga pangan yang menyebabkan masyarakat kesulitan mengakses adalah karena terjadinya perang Rusia-Ukraina.

“Alasan utamanya adalah karena Federasi Rusia dan Ukraina merupakan eksportir dari 30 persen biji gandum untuk dunia. Sementara Federasi Rusia merupakan eksportit utama pupuk dunia,” terangnya.

Lebih jauh, Maximo menyampaikan, tahun depan dunia akan menghadapi
masalah besar di sektor pangan, yakni masalah ketersediaan pangan atau food availability.

“Jadi tahun ini masalah akses pangan. Tahun depan akan menjadi tantangan terbesar adalah ketersediaan pangan,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah Indonesia aman dari krisis pangan yang tengah menbayangi sejumlah negara di dunia, Maximo menegaskan, Indonesia mengalami kemajuan sangat luar biasa terkait produksi dan peningkatan kapasistas beras.

Saat ini, ujar Maximo, Indonesia telah mampu memproduksi sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan berencana untuk mengekspor dan berkeinginan untuk membantu negara-negara tetangga.

“Saya beharap jika Indonesia meneruskan kebijakan yang benar, maka Indonesia akan bisa bertahan dan menjadi tangguh menghadapi kondisi yang tengah terjadi saat ini,” harapnya.

Kendati demikian, Maximo menerangkan, seperti kebanyakan negara lainnya, Indonesia akan tetap terkena dampak krisis pangan oleh peningkatan harga pupuk dan juga kenaikan biaya impor.

“Masalah ini harus cepat ditanggulangi agar pupuk dapat didistribusikan dengan
baik, terutama untuk produksi padi. Karena bila petani tidak mampu membeli pupuk akibatnya, mereka menanam lebih sedikit,” tutupnya.

Comment