SINGAPURA, BERITA-SULSEL.COM — Tidak semua forum internasional mampu mengubah arah masa depan sistem kesehatan suatu kawasan. Namun, Four Country Regulatory Partnership (4CRP) menjadi salah satu wadah strategis yang berpotensi kuat mewujudkan hal tersebut.
Forum bergengsi ini mempertemukan empat otoritas regulator terkemuka di Asia Tenggara. Keempat lembaga tersebut adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Health Sciences Authority (HSA) Singapura, National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) Malaysia, dan Thai Food and Drug Administration (Thai FDA). Melalui pertemuan ini, para regulator merumuskan langkah konkret untuk menyelaraskan regulasi kesehatan di kawasan ASEAN.
Seluruh pembahasan mengacu pada standar World Health Organization (WHO) dan International Council for Harmonisation (ICH). Dengan rujukan internasional ini, para anggota memastikan pengawasan obat dan produk kesehatan tetap berada pada standar tertinggi.
Dalam forum yang mengusung tema “Exploring a Joint Regulatory Framework for More Accessible and Equitable Health for All” di Singapura, Jumat (17/7/2026), Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memimpin langsung delegasi Indonesia. Ia membawa gagasan besar yang melampaui diplomasi regulasi biasa.
Mendorong Kolaborasi Ilmiah dan Mempercepat Akses Obat
Pada pertemuan tersebut, Indonesia tidak hanya mengusulkan percepatan proses perizinan. Sebaliknya, Indonesia menawarkan arsitektur kolaborasi ilmiah yang inovatif. Gagasan ini memungkinkan para regulator saling berbagi hasil penilaian saintifik dan memperkuat kepercayaan antarlembaga.
Oleh karena itu, masyarakat dapat mengakses obat, vaksin, dan teknologi kesehatan baru secara lebih cepat. Meskipun demikian, BPOM RI memastikan bahwa kolaborasi ini tidak akan mengurangi standar perlindungan yang menjadi fondasi utama otoritas regulasi.
Saat ini, tantangan kesehatan global tidak lagi mengenal batas negara. Perkembangan terapi gen, vaksin generasi baru, serta produk biologis melaju jauh lebih cepat daripada mekanisme regulasi konvensional. Akibatnya, regulator dituntut untuk tampil lebih adaptif, kolaboratif, dan tetap independen dalam mengambil setiap keputusan.
Membangun Kepercayaan Sebagai Fondasi Utama
Menurut delegasi Indonesia, keberhasilan kemitraan 4CRP sepenuhnya bertumpu pada satu fondasi utama, yaitu kepercayaan.
Namun, kepercayaan tidak akan lahir begitu saja hanya melalui penandatanganan dokumen di atas kertas. Kepercayaan yang kokoh harus tumbuh melalui transparansi, konsistensi, serta pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, BPOM RI mendorong beberapa langkah konkret berikut:
- Melakukan pertukaran laporan evaluasi ilmiah secara menyeluruh.
- Menerapkan mekanisme peer review antarasesor.
Menyelenggarakan pelatihan bersama untuk memperkuat kapasitas regulator. - Saling berbagi informasi mengenai keamanan produk pascapemasaran.
- Melaksanakan inspeksi bersama pada fasilitas produksi obat.
Melalui langkah-langkah sistematis tersebut, para regulator dapat menciptakan standar ilmiah yang selaras. Selanjutnya, keselarasan standar ini akan mempercepat pengambilan keputusan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Komitmen Nyata Indonesia di Panggung ASEAN
Sebagai bukti keseriusan, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menjadi bagian dari proyek percontohan (pilot project) penilaian ilmiah bersama. Proyek ini akan menyasar produk-produk yang diajukan secara simultan di empat negara anggota 4CRP.
Selain itu, Indonesia mendukung penuh pembentukan tata kelola 4CRP yang memiliki prinsip kerja jelas, prosedur operasional standar, serta peta jalan (roadmap) yang terukur. Langkah ini penting agar kemitraan strategis ini dapat berkembang secara berkelanjutan.
Bagi Taruna Ikrar, keberhasilan sebuah kerja sama tidak diukur dari banyaknya seremoni atau jumlah dokumen yang ditandatangani.
“Tolok ukur keberhasilan yang sesungguhnya adalah kemampuan kita menghadirkan sistem regulasi yang lebih efisien, memperkuat kepercayaan antarlembaga, serta mempercepat ketersediaan produk kesehatan yang aman, bermutu, dan berkualitas bagi jutaan masyarakat di kawasan ASEAN,” tegas Taruna Ikrar.
Meskipun pertemuan di Singapura ini tidak menyita perhatian publik layaknya konferensi politik tingkat tinggi, dari sinilah fondasi masa depan regulasi kesehatan ASEAN bermula. Melalui meja perundingan ini, Indonesia membuktikan komitmennya untuk menjadi perancang arah perubahan, bukan sekadar pengikut arus global.
Comment