Inovasi Farmasi Unhas: Daun Kelor Jadi Harapan Baru Pasien Parkinson

Tim Program Kreativitas Mahasiswa dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Tim dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan inovasi sistem penghantaran obat baru yang berpotensi menjadi alternatif pengobatan penyakit Parkinson. Inovasi ini memanfaatkan ekstrak daun kelor yang dinilai lebih aman dan berkelanjutan.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) diketuai Andi Alfitri Meyla ini berada di bawah bimbingan Apt. Afdil Viqar Viqhi, S.Si., M.Si. Penelitian yang diberi judul “Smart Delivery System Berbasis Gel In-Situ Termosensitif dan Nanopolimer untuk Penghantaran Selektif Asam Galat Ekstrak Daun Kelor sebagai Neuroprotektif Parkinson” ini memanfaatkan senyawa asam galat dari daun kelor.

Asam galat dikenal memiliki efek antioksidan kuat yang mampu melindungi sel saraf otak (neuroprotektif).

Lebih Efektif Lewat Hidung

Yang menarik, tim ini mengembangkan metode penghantaran obat yang disebut “nose to brain,” yaitu melewati rongga hidung langsung menuju sistem saraf pusat. Cara ini diyakini lebih efektif dan minim efek samping dibandingkan metode konsumsi obat biasa.

Selama ini, pengobatan utama Parkinson masih menggunakan obat levodopa. Meskipun efektif, penggunaan jangka panjang sering memicu diskinesia—gerakan tubuh tak terkendali—yang menyebabkan pasien semakin bergantung pada obat.

“Efek samping berupa diskinesia inilah yang akhirnya menimbulkan ketergantungan pasien terhadap levodopa,” jelas Andi Alfitri Meyla, Ketua Tim PKM.

Nanopolimer dan Gel Termosensitif

Mengatasi masalah tersebut, tim Unhas memformulasikan asam galat ke dalam bentuk nanopolimer yang dikombinasikan dengan gel thermosensitive in-situ. Gel ini dirancang bisa berubah bentuk sesuai suhu tubuh, memungkinkan obat dihantarkan langsung ke sel target secara selektif dan tahan lama.

Formulasi inovatif ini kini sedang diuji coba pada hewan model (tikus) melalui dua rute pemberian, yaitu oral dan nose to brain. Pengujian berfokus pada durasi pengobatan yang diperlukan dan potensi efek toksik pada jaringan otak maupun darah.

Jika uji coba ini berhasil, inovasi sistem penghantaran obat berbasis daun kelor ini berpotensi menjadi solusi terapi Parkinson yang lebih nyaman dan aman, sekaligus membuka harapan baru bagi ratusan ribu pasien di Indonesia dan jutaan penderita Parkinson di dunia.


Comment