BRIN dan BPOM Perkuat Sinergi Riset-Regulasi Berbasis Konsep ABG

BRIN dan BPOM Perkuat Sinergi Riset-Regulasi Berbasis Konsep ABG

JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, menemui Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, di Jakarta, Jumat (27/2/2026). Pertemuan strategis ini bertujuan memperkuat integrasi ekosistem riset nasional dengan sistem regulasi obat dan makanan.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam mempercepat hilirisasi riset sekaligus meningkatkan daya saing industri inovatif nasional. Kedua pimpinan lembaga sepakat bahwa transformasi riset membutuhkan kolaborasi multipihak yang solid agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Penerapan Konsep ABG dalam Inovasi

Dalam diskusi tersebut, Prof. Taruna Ikrar menekankan pentingnya konsep ABG (Academia Business Government) sebagai fondasi inovasi. Strategi ini membagi peran tiga pilar utama secara proporsional:

  • Academia: Menghasilkan riset dan inovasi ilmiah berkualitas.

  • Business: Menggerakkan hilirisasi dan industrialisasi produk.

  • Government: Bertindak sebagai regulator dan fasilitator keamanan produk.

“Riset tidak boleh berhenti di jurnal. Hasil penelitian harus menjadi produk yang aman, bermutu, dan bermanfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Taruna Ikrar.

Oleh karena itu, BRIN dan BPOM akan mengharmonisasikan kebijakan riset dengan standardisasi pengawasan. Melalui pendekatan science-based regulation, inovasi BRIN dapat memasuki tahap produksi lebih cepat tanpa mengabaikan aspek keamanan dan khasiat.

Apresiasi Status Global BPOM

Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, juga memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian BPOM meraih status WHO Listed Authority (WLA). Menurutnya, pengakuan internasional ini membuktikan bahwa sistem regulasi Indonesia telah sejajar dengan otoritas kelas dunia.

“Status WLA menjadi modal penting bagi hilirisasi riset nasional agar pasar internasional lebih mudah menerima produk kita,” ujar Arif Satria.

Menuju Kemandirian Industri 2045

Selain membahas regulasi, pertemuan ini juga merancang pembentukan regulatory sandbox untuk inovasi bioteknologi dan produk terapi tingkat tinggi (ATMP). Ruang kolaboratif ini memungkinkan peneliti dan industri menguji inovasi secara terkontrol sebelum komersialisasi luas.

Selanjutnya, Prof. Arif menekankan pentingnya riset yang selaras dengan kebutuhan industri strategis, seperti farmasi dan pangan olahan. Sinergi ini merupakan bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045 untuk mewujudkan kemandirian kesehatan dan kedaulatan industri.

Momentum ini juga bertepatan dengan HUT ke-25 BPOM. Di usia seperempat abad, BPOM terus bertransformasi menjadi mitra strategis yang mendukung ekosistem inovasi dari laboratorium hingga ke tangan masyarakat.


Comment