
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Dua pengamat politik Universitas Hasanuddin menyebut peluang Danny Poamnto untuk kembali merebut kursi kosong satu di Kota Makassar tahun 2018 mendatang sangat tipis.
Pengamat Sosiologi Politik Unhas, Dr Andi Haris mengatakan, Danny tidak memiliki keistimewaan selama memimpin Kota Makassar. Sehingga dirinya heran jika banyak pihak yang memuji secara berlebihan.
“Danny tidak ada apa-apanya. Tetap ada perubahan tapi tidak signifikan. Buktinya masih macet, banjir, gesekan pedagang pasar sentral belum bisa teratasi, pasar tradisional masih sangat kumuh, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pembangunan dan masih banyak masalah lain,” ujarnya saat dihubungi melaui telepon seluler, Selasa (5/9/2017).
Kata dia, masalah yang sangat kompleks di Kota Makassar harus segera diselesaikan. “Pilwali Makassar ini kepentingan publik (masyarakat Makassar), mari ciptakan ruang-ruang dialogis atau adu program untuk kemajuan masyarakat,” tambahnya.
Ia berharap agar masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin. “Dalam memilih pemimpin, harus lihat track record, kedekatannya dengan masyarakat, programnya atau visi misinya,” tutupnya.
Sebelumnya, pengamat politik Unhas lainnya, Dr Hasrullah menyebut Danny hampir pasti kalah di Pilwali Makassar mendatang. Salah satu faktornya yakni bergabungnya dua partai yang cukup membumi bagi pemilih di Kota Makassar sudah merapatkan barisan untuk menantang Danny.
Menurutnya, keputusan yang diambil kedua partai tersebut tentu sudah melewati perhitungan yang sangat matang guna melawan petahana wali kota.
Kecepatan dan kepastian politik ditawarkan penantang ini tentu menaikkan adrenalin politik, sehingga bagi para calon wali kota akan tercipta kegamangan dan uncertaintly (ketidakpastian) cukup tinggi bagi calon wali kota.
“Pak Danny memiliki rekam jejak di pilwali sebelumnya yang tidak memiliki komitmen kepada partai yang cukup kuat, sehingga seharusnya fakta politik ini menjadi preferensi/pertimbangan partai politik, sebelum sepenuhnya menentukan sikap mengusung Pak Danny dalam pilwalkot mendatang,” tulis Dr Hasrullah.
Dan ini telah menjadi fakta politik, ketika kemenangan periode pertama Danny dan Deng Ical (Syamsu Rizal) didukung oleh Partai Demokrat, dan sekarang Pak Danny tidak hanya “meningggalkan” Partai Demokrat, juga meninggalkan pendampingnya, Deng Ical sebagai wakil wali kota.
Adanya postulat politik semacam ini dijadikan rujukan memilih Pak Danny kembali, dan terpecahnya perahu Pemerintahan Makassar, maka ini adalah kelemahan utama petahana.
Comment