Siswanya Ditikam Saat Tidur, Ini Penjelasan Wakasek SUPM Bone

BONE, BERITA-SULSEL.COM — Hampir kehilangan nyawa, Rivaldi, kini terbaring di RSUD Tenriawaru Bone usai dianiaya oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) pada Selasa (8/1/19) sekitar pukul 01.30 dini hari, di asrama Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Bone, Kelurahan Waetuo Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

Wakil Kepala Sekolah SUPM Bone, Alwi Mulato, yang ditemui diruangannya, Selasa (8/1/19) siang, mengatakan saat kejadian dirinya sudah tertidur lelap dan terbangun setelah kejadian penganiayaan tersebut. Ketika mendapat informasi, Alwi bergegas menuju asrama yang terletak dibagian belakang sekolah.

“Saya dibangunkan, waktu kesana saya lihat diselasar sudah banyak darah, tapi nanti di rumah sakit baru saya lihat kalau yang luka itu bagian kepala sebelah kiri dan banyak mengeluarkan darah sampai ke mulut. Selain kepala juga luka terbuka di lehernya, ada luka tusuk di bagian dada kiri dan luka tusuk lengan kanannya” terang Alwi.

Saat itu menurut Alwi, yang ada dipikirannya hanya bagaimana cara menyelamatkan nyawa korban hingga akhirnya korban pun berhasil dibawa ke RSUD Tenriawaru. Luka di kepala korban dijahit dengan 7 jahitan sementara bagian leher yang paling parah diberi 14 jahitan.

“Pelakunya saya tidak tahu karena saat itu sempat mati lampu, kami juga tidak sempat memeriksa siswa karena fokus menyelamatkan korban. Waktu kejadian, korban sedang tidur di bagian depan kamar karena di kamar panas” tambah Alwi.

Korban yang duduk di kelas 3 jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) ini, diakui Alwi adalah anak yang cukup baik dan agak penurut. Sebelum kejadian ini, Alwi juga mengakui sempat ada pengeroyokan terhadap korban oleh 3 temannya hingga korban saat itu juga menderita luka.

“Pernah dikeroyok juga sama temannya, ada tiga orang tapi melalui hasil rapat cuma satu dari pelaku yang di skorsing karena pernah bermasalah juga sebelumnya” lanjutnya.

Saat ini ada 507 pelajar yang diasramakan di SUPM Bone, lebih dari 300 orang diantaranya adalah pelajar laki-laki dan sisanya pelajar perempuan. Dari ratusan pelajar tersebut, hanya 7 orang guru yang ikut menginap sambil mengawasi para siswa. (eka)


Comment