Penulis : Aswar Anwar
Mahasiswa Komunikasi UIN Alauddin
Melaporkan dari Kabupaten Gowa
GOWA, BERITA-SULSEL.COM – Menjemput fajar di kampus peradaban. Begitulah kalimat yang dapat menggabarkan kepada sosok Jumiati (40) atau lebih dikenal dengan sapaan Daeng Sangnging.
Wanita kelahiran Romang Polong, Gowa 1975 tersebut setiap harinya berkerja sebagai tukang bersih-bersih atau cleaning service di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.
Setiap hari Daeng Sangnging bangun sebelum pukul 05.00 subuh. Setelah melakukan salat, kemudian ke kampus. Hal tersebut sudah menjadi rutinitasnya selama 9 tahun terakhir.
Ya, tuntutan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di kampus membuat beliau harus berangkat subuh ke tempat kerjanya.
Jarak kampus dan tempat tinggalnya cukup jauh, membuat Daeng Sangnging harus menempuh jarak kurang lebih 2 kilometer dengan berjalan kaki setiap harinya.
Jumiati, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengurusi suami dan anaknya. Namun, tepat di tahun 2010 silam, ibu dari Anita Rahayu dan Anta Wijaya tersebu mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih di FDK.
“Sebelumnya, saya hanya sebagai ibu rumah tanggaji, tapi waktunya 2010 ada kasi masukka kerja di FDK UIN, karena tidak adaji anak kecil yang kuurus, besar semuami anakku,” ujarnya dengan aksen Makassar yang kental.
Bekerja sebagai celaning service harus Jumiati lakukan demi membiayai sekolah kedua anaknnya. Pekerjaan yang lain pun tak mampu ia dapatkan, mengingat bahwa dirinya hanyalah tamatan sekolah dasar (SD).
Suaminya, Ruslan dulunya bekerja sebagai supir pete-pete atau angkot. Namun, ada beberapa hal yang harus membuat ia berhenti dari pekerjaannya tersebut.
Acap kali Daeng Sangnging pun di antar ke tempat kerja oleh suamniya yang kini bekerja sebagai Satpam.
Jumiati mengatakan, suaminya sering membantunya jika sedang tidak jaga. “Iya nabantuka menyapu, kalau dia menyapu saya yang mengepel. Itu kalau tidak jagaki ” tuturnya.
Dengan upah kerja kurang lebih Rp.500.000 – 700.000 setiap bulan, membuat Daeng Sangnging harus pandai-pandai mengatur keuangan.
Ia berusaha mencukupkan gajinya untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. “Sebenarnya tidak cukup, tapi kita yang kasi cukup-cukup toh,” ungkapnya dengan sedikit senyuman.
Sadar akan pentingnya pendidikan, Jumiati pun sukses menyekolahkan anak pertamanya hingga sarjana dengan predikat cumlude.
“Saya ingat sekali itu anakku mau sekali kuliah, jadi kubilang biarmi kuliah. Jadi kalau ada rezeki yang dikasika sama dosen itumi yang kusimpan toh untuk bayar SPP-nya anakku” ucap Daeng Sangnging.
Sekarang, Anita Rahayu anak pertama dari Jumiati telah bekerja sebagai seorang tenaga honorer di SD Paccinnongang Unggulan.
Jumiati menuturkan, semasa kuliah anaknya itu sempat lolos dalam tes wawancara dengan beasiswa bidikmisi, namun akhirnya harus gagal mendapatkan beaisiswa tersebut karena ada beberapa faktor yang tak terpenuhi. Akhirnya hanya mendapat beasiswa dari pihak jurusannya saja.
Saat ini, sudah hampir sepuluh tahun Daeng Sangnging bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, tak ada perasaan menyesal dan pengalaman tidak enak yang ia dapatkan.
Kata dia, semua dosen, staf, dan mahasiswa selalu baik kepadanya.
Jumiati sangat bersyukur atas hidupnya sekarang, dikarenakan anaknya pertamanya sudah bekerja walapun masih berstatus honorer, kurang lebih bebannya sudah cukup berkurang dan saat ini sisa membiayai sekolah anak keduanya yang masih duduk dibangku SMA. (*)
Comment