
Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole
BERITA-SULSEL.COM – Sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita memulai kehidupan dalam keberagaman serta perbedaan sesama masyarakat. Disparitas dari berbagai latar belakang secara personal maupun kelompok. Namun, perbedaan yang selama ini kita ketahui yakni perbedaan secara etnik, budaya, Agama serta adat istiadat berbagsa. Jauh dari pada itu, ada suatu hal yang sangat utama dalam menyikapi persoalan simpisit yaitu, menyangkut dengan konstelasi pemikiran atau ide dalam suatu perspektif. Peran-peran bangsa Inodonesia dalam mengusir penjajah sejak kurang lebih, tiga abad silam.
Hal itu tak lepas dari peran pemuda dalam menjemput kemenangan bangsa Indonesia. Banyak buku-buku sejarah menguraikan kisah panjang pergolakan yang terjadi di Indonesia ini. Sebut saja buku Yudi Latif tentang Negara paripurna (Historitas, rasionalitas dan aktualitas Pancasila). Mohammad Hatta dalam bukunya politik, kebangsaan dan ekonomi. Itu semua merupakan bentuk uraian sejarah yang menunjukan peran-peran bangsa khususnya pemuda Indonesia dalam merebut kekuasaan dari penjajah kolonialisme dan imperialisme.
Dalam konteks ini, setelah dinyatakan merdeka atau adanya pengakuan oleh beberapa orang yang berasal dari kaum penjajah atau kolonial, Belanda dan Jepang terhadap kekuatan dan kemenangan Indonesia. Ketertundukkan negara Belanda dan Jepang atas Indonesia menunjukan suatu gambaran baru. Bahwasannya, peran pemuda dan bangsa pada masa tersebut, mengungkapkan dengan jelas kemerdekaan ini tidaklah direbut dengan begitu saja. Namun, memiliki proses yang begitu panjang serta kesabaran dan cinta atas tanah air. Dengan pemahaman seperti itu, kebijaksanaan pemuda ditentukan atas dasar rasionalitas, serta konsistensi dalam mengambil keputusan yang terdapat beraneka ragam konstelasi yang terkandung di dalamnya.
Corak cara pandang pemuda selain disisipkan dalam bentuk perang atau strategic perang. Justru paradigma yang otentik itu lebih dibangun berupa nalar-nalar perjuangan, daya analisa, upaya pemberontakan yang murni intelektual. Jadi tidak halnya juga dinamika pada saat tersebut hanya melakukan pergolakan serta pertentangan politik yang, begitu saja tanpa ada suatu landasan pemikiran yang matang dan dewasa.
Menyikapi kondisi ini perlu kita ketahui bahwa bangsa besar adalah bangsa yang berkarya demi bangsa lain. Secara besar pula–perang pemuda dalam merebut kemerdekaan—Bangsa yang diketahui di Indonesia ialah bangsa yang berdiri di atas perjuangan yang sama. Mengusir serta melawan orang-orang yang teridentifikasi menghianati Indonesia dalam konteks ini tidak memihak secara penuh terhadap rakyat yang tertindas. Kemerdekaan selain direbut dengan perjuangan peperangan justru yang urgenya ialah mematikan strategi-srategi kolonialisme dan imprealisme asing.
Hal itu dapat dilakukan oleh pemuda-pemuda progresif seperti pemuda di Indonesia yang memperjuangkan hak hidup orang banyak masyarakat Indonesia.
Untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini kembali, pemuda harus melakukan restorasi dalam cara berpikir model faktual untuk meningktakan daya nalar sebagaimana pemahaman bapak founding fathers serta pemuda Indonesia. Yang tingkat responsif atas persoalan cukup tinggi. Mengubah berbagai perspektif kepentingan menjadi upaya memperbaiki dan mengaktualkan konsep baru ialah cinta tanah air dengan otentik.
Nalar kritis kepemudaan
Berpikir progresif merupakan salah satu berpikir yang dipakai oleh kaum-kaum muda di Indonesia. Berpikir progresif memiliki kaitan dengan nalar kritis yang mengarah ke arah perjuangan.
Berpikir progresif seorang pemuda ialah mempertanyakan segala sesuatu yang terjadi disekitar lingkup masyarakat kita. Mengapa Indonesia sudah kehilangan jati diri, banyak bangsa yang mengedepankan pemikiran kesukuan, banyak membiarkan kostelasi politik antar sesama bangsa. Mengapa ekonomi kita secara demokratis pancasila namun secara praktis kapitalisme yang dipakai.
Hal-hal seperti inilah yang dikupas dengan membangun daya nalar kritis kepemudaan. Namun, akhir-akhir ini pemuda kita sudah jauh dari identitas kepemudaannya seperti kepemudaan pada masa pra-kemerdekaan atau masa bapak founding fathers. Walaupun pendiri-pendiri negara tersebut memiliiki kepentingan politik, namun kepentingan itu dibangun atas dasar kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Sekali pun, itu adalah mimpi terbesar bangsa ini. Namun, belumlah tercapai hingga saat ini.
Kesadaran Nasionalisme kepemudaan masa kini telah, digerogoti oleh paham-paham pragmatisme bukan hanya radikalisme namun pragmatisme, dan hedonisme. Memperbaiki ini semua, kita sebagai bangsa sekaligus pemuda-pemuda di Indonesia harus membangun kembali paradigma kebangsaan yang kritis atas persoalan yang dihadapi masyarakat umum.
Kepemudaan bangsa harus yang progres. Maju dalam pemikiran dan dewasa dalam berperilaku keindonesiaan. Dari rakyat untuk rakyat. Bukan dari rakyat, oleh DPR dan untuk elit. Keliru. Camkan sebagai gerakan pembaharuan bangsa pemikiran progresif bangsa yang otentik perlu diutamakan.
Pemuda dalam mengisi kemerdekaan
Setelah lama bergelut dengan perlawanan-perlawanan yang progresif menentang kolonial Belanda dan Jepang. Dan setelah diculik Bung Karno dan Muhammad hatta beserta tokoh-tokoh pergerakan bangsa lainnya. Menjadikan ketakutan besar atas pihak Jepang terhadap kaum muda pada saat itu. Hal-hal yang dilakukan oleh pemuda terhadap bung Karno dan Bung Hatta merupakan hasil daripada komunikasi atau dialog panjang antara pemuda-pemuda tersebut, dalam memikirkan kondisi bangsa pada masa-masa akan datang. Jadi dengan mengacu pada konsep-konsep serta ide pemuda saat itu.
Oleh sebab itu, mereka mengambil inisiatif langkah untuk bagaimana, secepatnya mensinyalir proses kemerdekaan itu dengan cara menculik tokoh-tokoh seperti Bung Karno, bung Hatta Sutarjo Karyohadikusumah dan kawan-kawan. Peristiwa ini kita kenal dengan rengasdengklok, pada tanggal 16 agustus 1945.
Perjuangan pemuda pada saat itu pun. Merepresentasikan bahwa pergerakan dalam membentuk negara yang memiliki kedamaian dalam masyarakat, yang menunjukan kemerdekaan kebebasan bermasyarakat sebagaimana kebutuhan serta harapan rakyat pada saat itu. Hal tersebut tidaklah berakhir begitu saja. Namun, perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh pemuda pada saat itu masih menyisahkan jiwa-jiwa Nasionalisme serta idealisme terhadap bangsa di Indonesia saat ini.
rjuangkan martabat serta hak masyarakat tertindas akibat sistem demokrasi yang salah kaprah. Seperti dijelaskan pada awal-awal paragraf. Demokrasi yang tidak sebagaimana dibutuhkan atau diharapkan yakni demokrasi berkedok kapitalis, hanyalah segelintir masyarakat elit yang merasakan atau menikmati cara berdemokrasi seperti itu. Namun, rakyat Indonesia pada sebahagiaannya masih bertahan dalam keterpurukan atas kondisi sosial, ekonomi maupun implementasi hukum terhadap rakyat di seantero Indonesia yang mencekam.
Peran pemuda sangat diutamakan dalam memjembatangi problems bangsa kita di Indonesia. Kolonialisme dan imprealis memang sudah tidak lagi muncul secara nyata dengan bentuk-bentuk despotik menindas dengan kekerasan. Bentuk-bentuk seperti itu memang, kini tidaklah kita temukan lagi. Namun, fatalnya bentuk tersebut sudah berubah menjadi metafora.
Secara faktual, sistem kita di Indonesia sudah menjadi sistem-sistem yang menampakan suatu distorsi yang mulanya dibela oleh para pendiri bangsa yakni pancasila. Kini telah menjadi serta diterapkan sampai saat ini yaitu kapitalisme demokrasi, kapitalisme ekonomi khawatirnya hal ini berdampak pula terhadap hukum kita di Indonesia yaitu, hukum yang memihak hanyalah pada orang-orang elit atau tertentu bukan memihak pada rakyat kita yang membutuhkan payung hukum Indonesia. Kita tak dapat lagi menyalahkan siapa-siapa karena kejadian serta kondisi yang terjadi saat ini menunjukan ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Untuk memperbaiki serta meluruskan arti perjuangan bapak founding fathers dalam membangun bangsa dalam keindonesiaan.
Pemuda, pendidikan dan pembangunan bangsa
Pemuda pula memiliki peran signifikan terhadap wajah pendidikan di Indonesia. sebaiknya pendidikan kita mengajarkan akan arti filosofi. Hal-hal yang menggelitik persoalan menyangkut dengan pendidikan. Sebaiknya ini menjadi kajian utama bangsa pada saat ini yang di evaluasi langsung oleh pemerintah kita di Indonesia khususnya pemerintah dalam kementerian pendidikan dan kebudayaan kemudian juga kemenristek dikti.
Tak hanya proses-proses formal yang, diutamakan dan memberikan keutamaan bagi pelajar-pelajar elite yang hanya mampu duduk di sekolah maupun tingkat perguruan tinggi. Sudah saatnya pemerintah pada saat ini, menaruh perhatian penuh serta holistik terhadap wajah pendidikan kitah di Indoenesia. Begitu pun sebaliknya setiap warga negara sudah selayaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Dari masyarakat kurang mampu, mampu sampai yang tidak mampu.
Dapat pula disini peranan pemuda selayaknya melihat dan mengejewantahkan dalam bentuk didikkan bersifat formal maupun non formal dan berlaku secara universal di seluruh Indonesia. Dahulu kita kenal dengan tokoh pendidikan Indonesia KI Hajar Dewantara, Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Raden Adjeng Kartini, Dewi Sartika. Tokoh-tokoh tersebut dapat mengabdikan dirinya menjadi pengajar atau mengabdi sebagai pendidik dalam situasi konfrontasi bangsa Indonesia dan kolonialisme maupun, imprealisme. hal itu menggambarkan perjuangan utama mereka ialah mencerdaskan kehidupan rakyat pribumi saat itu.
Dalam konteks ini, pengorbanan-pengorbanan seperti itu yang kita butuhkan dalam era kekinian. Sebagaimana, pemuda menjadi dasar dalam membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa baik. Mengedepankan Nasionalisme, cinta tanah air dan khususnya pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bernegara dan berbangsa.
Pembangunan nasional dapat diperjuangangkan dan seharusnya memberikan manifestasi yang nyata bila didukung oleh stakeholder– dalam membangun konsep fundamental.– Stakeholder tersebut ialah pemerintah, rakyat dan berbagai elemen-elemen dalam kemasyarakatan. Ini yang menjadi tumpuan harapan bangsa ke depan.
Pembangunan tersebut berdasar pada pembangunan mental masyarakat khususnya peranan pemuda dalam menyikapi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan aspek politik, ekonomi, dan psykologi yang dapat memberikan bahaya atau ancaman bagi rakyat di Indonesia.
Hal itu dapat diimplementasi dengan mendorong kegiatan pemerintah yang bersifat dedikasi yang berorientasi terhadap khalayak umum. Setelah kita memiliki bangsa-bangsa yang berjiwa pembaharuan dan cerdas dalam menyikapi persoalan kehidupan dan mampu memenuhi kebutuhan hidup secara merata. Dan tidak ada ketimpangan sosial. Menurut hemat penulis pembangunan di Indonesia dapat terwujud secara otentik.
Upaya-upaya fundamental seperti itulah, yang mendukung terjadinya pembangunan fisik atau infrastruktur yang baru. Sesuai dinamika zaman hal itu utamanya, dapat merealisasikan kebutuhan urgen yaitu memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Maksud dari uraian ini ialah menggelitik peran pemuda untuk dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan beradab. Bermoral, berilmu pengetahuan untuk mewujudkan pembangunan Nasional.
“BELAJARLAH DARI BARAT,
TAPI JANGAN JADI PENIRU BARAT,
MELAINKAN JADILAH,
MURID DARI TIMUR YANG CERDAS.”
TAN MALAKA
Salam bersaudara, semoga bermanfaat.
Comment